INVESTASI INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN TERUS TUMBUH

Di tengah tantangan global seperti pandemi Covid-19, inflasi dan krisis energi, investasi di sektor industri makanan dan minuman terus tumbuh. Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika pada peresmian pabrik Corn Wet Milling Cargill Pandaan Facility (PT Sorini Agro Asia Corporindo) di Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (8/9). Pada triwulan II tahun 2022, industri makanan dan minuman mampu menarik investasi sebesar Rp 21,8 triliun dan secara keseluruhan menyerap tenaga kerja sampai 5,5 juta orang.

“Pemerintah mengapresiasi Cargill Indonesia yang merealisasikan investasi pabrik corn wet milling dengan nilai Rp1,3 triliun. Pabrik ini akan memproduksi pati jagung dan pemanis untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku pati jagung dan pemanis pada industri penggunanya,” sebut Putu.

Pabrik Corn Wet Milling Cargill mengadopsi aspek industri 4.0 dengan mengoptimalkan otomatisasi dalam keseluruhan proses mulai dari penggilingan hingga pengemasan produk yang menggunakan sistem robotik.

Lebih lanjut, Putu menyampaikan harapannya bahwa dengan investasi baru ini dapat mensubstitusi impor sekaligus meningkatkan ekspor pati jagung dan pemanis.

“Saat ini dengan meningkatnya produksi dalam negeri, impor pati jagung, sirop fruktosa dan sirop glukosa mulai tersubstitusi produk dalam negeri dan telah mengalami tren penurunan impor, di mana pada tahun 2019  nilai impornya  sebesar Rp2,99 triliun, turun menjadi Rp2,69 triliun di tahun 2020 dan turun kembali menjadi Rp1,56 triliun di tahun 2021,” terang Putu.

Industri pati jagung dan pemanis merupakan industri yang memiliki keterkaitan yang luas mulai dari sektor pertanian hingga sektor industri hilir makanan dan minuman sebagai pengguna pati jagung dan pemanis. Produk pati jagung memiliki nilai tambah yang tinggi sebagai bahan baku pada industri bihun, pemanis seperti glukosa, fruktosa, sorbitol dan maltodekstrin. Selain itu pati jagung dapat digunakan sebagai bahan penolong pada industri biskuit, industri olahan daging maupun tekstil.

Industri pati jagung dan pemanis saat ini masih dihadapkan pada tantangan dalam pemenuhan bahan baku jagung. Bahan baku jagung yang diterima oleh industri pengolah harus memiliki kadar aflatoksin di bawah 20 part per billion (ppb) dan kadar pati di atas 70%. Sebagian besar jagung yang memenuhi persyaratan tersebut masih dipenuhi dari impor.

“Untuk memberikan kepastian pasokan jagung bagi industri dan mendukung tercapainya program subtitusi impor jagung, Kementerian Perindustrian telah mengusulkan Neraca Komoditas Jagung Tahun 2023 ke Kementerian Koorditor Bidang Perekonomian. Dengan Neraca Komoditas, diharapkan tersedianya data ketersediaan dan kebutuhan bahan baku jagung secara transparan dan akuntabel,” Putu menjelaskan.

“Selain melalui Neraca Komoditas, kami juga berharap perusahaan dapat bermitra dengan petani jagung dalam rangka peningkatan produksi dan penyerapan bahan baku jagung yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan,” pungkas Putu.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Industri Agro juga menyampaikan apresiasinya atas capaian zero accident selama proses pembangunan Pabrik Corn Wet Milling Cargill. Putu juga menyampaikan apresiasinya kepada Cargill Indonesia dalam pemenuhan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) selama proses konstruksi pabrik dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan pemeriksaan Covid-19 hingga 25.000 tes.