PEMERINTAH APRESIASI PT. SMS DALAM UPAYA PEMENUHAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU GULA NASIONAL

Industri gula merupakan salah satu industri strategis bagi negara ini, karena merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis bagi ketahanan pangan dan peningkatan pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 2004 tentang Penetapan Gula Sebagai Barang Dalam Pengawasan, Gula dibagi menjadi 3 jenis yaitu Gula Kristal Mentah (GKM) yang dipergunakan sebagai bahan baku proses produksi, Gula Kristal Putih (GKP) yang merupakan gula kebtuhan konsumsi langsung/rumah tangga dan Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang merupakan bahan baku industri.

 

Dalam sejarahnya Indonesia pernah menjadi eksportir terbesar dunia untuk komoditi gula yang terjadi pada era kolonial, namun sejak era kemerdekaan hingga saat ini Indonesia belum pernah kembali menjadi eksportir gula. Jika menilik sejarah yang pernah terjadi, potensi Indonesia untuk menjadi salah satu pemain penting dalam penyuplai gula sangat mungkin terjadi karena negara ini mempunyai lahan yang luas serta iklim yang memadai untuk perkembangan tebu.

 

Pada kunjungan kerja ke PT. Sukses Mantap Sejahtera (PT. SMS) (02/10) ,Plt Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa tahun 2020 produksi gula nasional sebesar 2,23 juta ton yang terdiri dari produksi pabrik gula BUMN sebesar 1,13 juta ton dan pabrik gula swasta sebesar 1,1 juta ton. Namun nyatanya angka ini belum bisa memenuhi kebutuhan gula nasional.


"Namun produksi tersebut belum dalam memenuhi kebutuhan gula nasional,  karena pada tahun 2020 kebutuhan gula mencapai sekitar 6 juta ton terdiri dari 2,8 juta ton GKP dan sekitar 3,2 juta ton GKR. Sehingga masih terdapat gap kebutuhan gula sebesar ± 600 ribu ton untuk gula konsumsi dan 3,2 juta ton untuk gula rafinasi." Ungkap Putu.

 

Pemerintah memberikan perhatian khusus pada perkembangan industri gula dengan salah satunya adalah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula, dengan Permenperin tersebut, industri gula yang dibangun di luar pulau jawa mendapat insentif bahan baku berupa Gula Kristal Mentah sampai dengan 7 tahun dan industri gula yang dibangun di pulau jawa mendapat insentif sampai dengan 5 tahun.


Putu juga mengapresiasi PT. SMS yang telah membangun industri gula di remote area. Ia menyadari pembangunan pabrik gula di wilayah dompu ini sangat sulit karena mempunyai banyak halangan dari mulai masalah lahan tebu, infrastruktur, SDM sampai dengan efektifitas kinerja pabrik.


"Untuk mewujudkan swasembada gula nasional, kami dari Pemerintah sangat mengapresiasi atas upaya yang dilakukan oleh PT Sukses Mantap Sejahtera dalam mengembangkan industri gula nasional dengan mendirikan pabrik gula yang terintegrasi dengan perkebunan tebu di remote area ini." Papar Putu.


Selain itu Keberadaan PT SMS, selain menambah pendapatan daerah dan secara nyata telah memberi efek domino bagi kemajuan warga sekitar dan menciptakan lapangan kerja baru di Kabupaten Dompu bahkan NTB umumnya.