PERLUASAN LAHAN SAWIT DEMI MENJAGA BAHAN BAKU BIODIESEL

 

JAKARTA. PT Eterindo Wahanatama Tbk (Eterindo) kian fokus menggarap sektor hulu kelapa sawit. Emiten yang memproduksi biodiesel dengan kode ETWA ini menargetkan penambahan luas areal kebun sawit tertanam seluas 5.000 hektare (ha) di Kalimantan tahun ini.

Perluasan lahan sawit tertanam ini menjadi upaya Eterindo mengamankan pasokan bahan baku biodiesel di masa mendatang. Bambang Suyitno, Investor Relations Eterindo, mengatakan, hingga kuartal I-2013 realisasi penanaman pohon sawit baru mencapai sekitar 700 ha.

"Kami mengharapkan pada kuartal III-2013 penanaman pohon sawit baru bisa maksimal seiring membaiknya kondisi cuaca," kata Bambang, Senin (13/5).

Selama ini Eterindo memang lebih banyak mengandalkan pembelian minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari pihak ke tiga untuk bahan baku biodiesel. Untuk menjaga pasokan bahan baku, Eterindo mulai masuk ke sektor hulu perkebunan sawit sejak tahun 2009.

Selain untuk mengamankan pasokan bahan baku, ketertarikan Eterindo dalam mengembangkan perkebunan sawit adalah untuk menekan biaya produksi. Hingga kuartal I lalu, luas areal perkebunan sawit tertanam milik Eterindo mencapai 6.425 ha.

Dari luas tertanam tersebut, luas areal yang sudah mulai menghasilkan mencapai sekitar 1.211 ha. Menurut Bambang, tanaman sawit yang sudah menghasilkan adalah pohon sawit yang ditanam pada tahun 2009.

Bambang menambahkan, Setidaknya Eterindo harus merogoh dana sekitar Rp 45 juta untuk setiap hektare untuk pencetakan perkebunan sawit baru.

Eterindo memiliki lahan konsesi perkebunan seluas 40.000 ha di Kalimantan. Namun dari jumlah tersebut tidak semuanya layak dijadikan perkebunan sawit. Eterindo menghitung luas lahan yang layak ditanami pohon sawit hanya sekitar 24.000 ha.

Dengan luas itu, Eterindo optimis pada 2015 seluruh lahan potensial akan dapat dimanfaatkan seluruhnya. Seiring penambahan lahan perkebunan sawit, perusahaan ini juga akan membangun pabrik kelapa sawit (PKS) di lokasi yang sama.

PKS yang akan dibangun Eterindo direncanakan memiliki kapasitas 45 ton per jam. Meski tidak merinci nilai investasi pembangunan pabrik pengolahan minyak sawit tersebut, Bambang bilang, pada pertengahan tahun ini persiapan pembangunannya akan selesai dilakukan.

Untuk membangun pabrik minyak sawit, Eterindo membutuhkan waktu pengerjaan 15 bulan sampai 18 bulan. Dengan perhitungan tersebut, maka diharapkan pada tahun 2014 mendatang pabrik pengolahan sawit tersebut sudah mampu beroperasi.

Jika target itu tercapai, bukan tidak mungkin produksi biodisel Eterindo terdongkrak pada tahun depan. Pada tiga bulan pertama tahun ini, Eterindo mampu memproduksi biodiesel sebanyak 18.422 metrik ton (MT). Jumlah itu mengalami kenaikan 33,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 13.819,7 MT.

Peningkatan produksi terjadi seiring dengan kenaikan permintaan biodiesel, terutama di dalam negeri terutama PT Pertamina yang mencapai 95% penjualan. Pada kuartal I-2013 penjualan biodiesel Eterindo melambung hingga 17.953 MT.

Jumlah itu naik 32,7% dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 13.531,5 MT. Hingga akhir tahun ini,  Eterindo menargetkan produksi dan penjualan biodiesel sebanyak 90.000 MT-102.000 MT. Tahun lalu, jumlahnya sekitar 60.791 MT.

 

(Sumber : Industri.kontan.co.id)