INDONESIA AKAN MENJADI BASIS OLEOKIMIA DUNIA

JAKARTA - Indonesia berpeluang menjadi basis industri hilir minyak sawit terbesar dunia,terutama oleokimia, mengingat predikatnya sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Stefanus Goei King An menuturkan Investor utama di hulu minyak sawit semakin tertarik untuk berinvestasi di hilir.

“Pemain utama di hulu sudah mulai masuk ke hilir seperti Wilmar, Sinarmas, Musim Mas, Asian Agri, bahkan Unilever juga masuk,” jelasnya, Selasa (14/5).

Pemberlakuan bea keluar yang progresif terhadap ekspor minyak sawit mentah dituding menjadi alasan terjadinya migrasi ini.

“Saya rasa alasannya karena adanya pemberlakuan tarif ekspor minyak sawit mentah yang progresif membuat semakin banyak pelaku bisnis yang semula fokus di hulu mengalihkan usahanya di sektor hilir, di bisnis oleokimia,” ungkapnya.

Industri oleokimia sendiri merupakan industri pengolahan minyak sawit mentah (CPO) menjadi aneka produk kimia bernilai tambah tinggi seperti fatty acid, fatty alcohol, glyserin dan methyl ester.

Produk kimia tersebut merupakan bahan baku industri perawatan tubuh seperti sabun mandi, sampo, kondisioner, deterjen, makanan, plastik, farmasi dan juga pelumas.

Stefanus melanjutkan, kapasitas oleokimia Indonesia sudah melebihi Malaysia pada 2012, saat itu kapasitas Malaysia 1,9 juta ton sedangkan Indonesia lebih dari 2 juta ton. "Untuk 2013 kapasitas kita bisa lebih dari 3 juta ton dan 2014 diprediksi lebih dari 4 juta ton," ungkapnya.

Sebagian besar produk oleokimia Indonesia adalah untuk ekspor yang mencapai 80% dari total produksi. Sementara itu, di Indonesia sendiri, produk oleokimia lebih banyak digunakan untuk industri ban dan detergen.

Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim mengatakan kinerja industri oleokimia nasional dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan. Hal ini disebabkan oleh tarikan pasar atau market pull dan dukungan kebijakan pemerintah atau regulation push.

Saat ini, Malaysia masih dianggap sebagai tolak ukur konstelasi industri oleokimia global karena tingginya penguasaan teknologi dan integrasi industri dari hulu ke hilir. Oleh karena itu, lanjutnya, seharusnya Indonesia mampu menggeser posisi Malaysia tersebut.

"Kita harus mengubah mindset yang semula mengandalkan produksi minyak sawit mentah menjadi produsen aneka turunan minyak sawit bernilai tambah tinggi salah satunya melalui industrialisasi oleokimia," jelasnya.


(Sumber : Bisnis.com)