PABRIK PENGOLAHAN BIJI KAKAO GRESIK

 

BISNIS.COM, SURABAYA--Pabrik pengolahan biji kakao dengan nilai investasi US $100 juta atau mendekati Rp1 triliun dibangun Cargill di kawasan industri Maspion V Gresik, Jawa Timur.

Peletakan batu pertama proyek dilakukan Selasa (7/5/2013) siang ini. Proyek  pabrik penghasil bubuk kakao, cairan dan lemak kakao (butter) serta produk kakao premium Gerkens diprediksi selesai pertengahan 2014.

"Kami akan melihat pertumbuhan yang signifikan akan permintaan kakao dalam negeri," jelas Presiden Cargil Cocoa and Chocolate Jos De Loor, Selasa (7/5/2013).

Pabrik di Gresik itu menurut Jos De Loor diprediksi membutuhkan 70.000 metrik ton biji kakao. Di sisi industri, Cargill menilai pabrik di Indonesia itu bentuk antisipasi berkelanjutan potensi permintaan kakao global.

Sementara di sisi produksi, lanjut dia, perusahaan menargetkan melatih 1.300 petani kakao di Indonesia pada 2015. Langkah itu bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao petani.

Berdasarkan catatan Bisnis, ekspor biji kakao pada kuartal I/2013 sebanyak 48.992,34 ton, atau naik tipis 1,39% dibandingkan dengan periode sama 2012.

Kinerja itu sedikit lebih baik dibanding realisasi periode sama tahun-tahun sebelumnya.

Ekspor biji kakao pada kuartal I/2012 turun 30,16% dari 69.183 ton pada kuartal I/2011, melanjutkan penurunan 38,36%  dari pencapaian kuartal I/2010.

Penurunan itu terjadi seiring penerapan bea keluar kakao secara progresif 5%-15% mulai 2010 untuk mendukung penghiliran di dalam negeri.

Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) memperkirakan produksi kakao tahun ini maksimal menjadi 500.000 ton dari 453.729 ton pada 2012.

Sebaliknya, volume ekspor justru diprediksi menyusut menjadi 100.000 ton dari realisasi 2012 sebanyak 163.501 ton. Penurunan dipengaruhi penyerapan kakao di industri dalam negeri.

 

(Sumber : Bisnis.com)