SERAT BAMBU UNTUK INDUSTRI TEKSTIL, APAKAH BERKELANJUTAN?

Oleh : Aditya Bambang Pamungkas (Analis Industri - Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan)


Kondisi Industri Tekstil Nasional


Salah satu penopang sektor industri pengolahan nonmigas nasional adalah industri tekstil. Industri ini berkontribusi dalam menyerap tenaga kerja sebesar 2,67%. Selain itu, industri tekstil merupakan salah satu industri yang dikembangkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) dan revolusi industri Making Indonesia 4.0. Namun, adanya pandemi Covid-19 turut berdampak pada sektor industri ini dalam kurun waktu dua tahun terakhir. 



Selain karena dampak pandemi, penurunan kinerja industri tekstil di tahun 2021 dapat menjadi indikasi bahwa program yang dikembangkan untuk kerangka kerja Making Indonesia 4.0 belum berjalan. Walaupun selama beberapa tahun terakhir insentif fiskal dan nonfiskal telah diberikan, industri ini masih menghadapi sejumlah permasalahan yang menghambat kinerjanya.

Gambar 1. Perkembangan PDB Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)




(sumber: berkas.dpr.go.id)


Dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, sektor industri tekstil pada pada tahun 2030 diharapkan masuk ke dalam kategori lima besar manufaktur tekstil dunia dan spesialisasi produk pakaian fungsional. Daya saing industri tekstil terus ditingkatkan, oleh karena itu program Making Indonesia 4.0 terus digiatkan. Ada beberapa kebijakan strategis yang tengah dijalankan, antara lain mendorong perluasan pasar, restrukturisasi mesin dan peralatan, pasokan energi, serta kemudahan ketersediaan bahan baku. Dengan adanya program tersebut diharapkan Indonesia juga mampu mengurangi impor bahan baku.

Serat yang biasa dijadikan bahan baku industri tekstil adalah serat kapas. Hanya saja ketersediaan bahan baku dan kebutuhan kapas dalam negeri tidak seimbang. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, diketahui bahwa secara nasional kebutuhan bahan baku tekstil yang berbahan dasar katun sejumlah 42%, dengan sisanya bahan baku tekstil sintesis sebanyak 50% dan 8% untuk rayon. Dengan total kebutuhan hingga mencapai 900.000 ton, tentu kebutuhan bahan baku tekstil dari kapas ini bisa dibilang cukup tinggi. Meski demikian, kemampuan produksi dalam negeri hanya sekitar 4% saja. Hal ini berarti bahwa lebih dari 90% kebutuhan bahan baku tekstil berbahan dasar kapas masih bergantung pada impor.

Berdasarkan permasalahan ini, perlu alternatif lain yang bisa memenuhi kebutuhan bahan baku serat impor tersebut. Saat ini, penelitian mengenai salah satu serat alternatif selain serat kapas tengah dilakukan terhadap serat bambu.


Serat Bambu untuk Industri Tekstil


Sebagai salah satu negara tropis, Indonesia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial. Keunggulan dari bambu yaitu, bambu merupakan salah satu tumbuhan yang mudah tumbuh, memiliki kecepatan pertumbuhan tinggi serta tidak memerlukan perawatan khusus. Oleh karena itu, jika pemanfaatan bambu dimaksimalkan maka bambu bisa memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ada 8 jenis bambu endemik asli Indonesia dari 1500 jenis bambu yang ada di dunia, yang mana 8 jenis tersebut belum termanfaatkan secara optimal, padahal Indonesia merupakan negara penghasil bambu terbesar ketiga setelah China dan India.

Pemanfaatan bambu saat ini sangat beragam, mulai dari sebagai bahan baku mebel, barang kerajinan dan konstruksi ringan. Bahkan, menurut beberapa laporan penelitian bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan tekstil. Hal ini dikarenakan bambu memiliki kandungan serat. 

Teknologi serat bambu telah berkembang dimana serat diambil untuk dijadikan produk hingga menjadi kain. Kain dari serat bambu memiliki beragam kelebihan dibandingkan serat lainnya, diantaranya yaitu kain serat bambu biasanya lebih lembut, mudah menyerap dan memiliki sifat anti bakteri. Namun, proses untuk mendapatkan serat dari bambu atau yang disebut proses ekstraksi serat bambu sangat panjang. Hal ini juga menjadi bahan pertimbangan apakah serat bambu bisa menjadi solusi untuk industri tekstil yang berkelanjutan?


Menakar Serat Bambu untuk Industri Tekstil


Pengolahan bambu menjadi serat didapat melalui proses ekstraksi serat bambu. Proses ekstraksi serat bambu ini dapat dilakukan secara mekanis dan kimiawi. Ekstraksi serat bambu secara mekanis dikenal sebagai linen bambu dan menggunakan proses yang sama dengan linen rami. Hanya saja proses secara mekanis memiliki kelemahan dimana tekstur yang dihasilkan masih kasar dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk produksinya. 


Di sisi lain, ekstraksi serat bambu secara kimiawi jauh lebih umum dilakukan. Proses ekstraksi kimiawi ini dilakukan dengan melarutkan serat bambu dalam campuran Natrium Hidroksida (NaOH) dan Karbon Sulfida (CS2). Proses ini serupa dengan pembuatan kain rayon dari sumber nabati lainnya. Proses ekstraksi ini kemudian dilanjutkan dengan proses pemintalan dan penenunan hingga serat berubah menjadi kain. Namun demikian, teknologi ini membutuhkan urutan waktu proses yang cukup panjang, biaya yang besar dan resiko efek pencemaran lingkungan.

Proses ekstraksi serat bambu secara kimiawi yang menggunakan Karbon Sulfida (CS2) ternyata memiliki resiko masalah. Proses kimiawi dalam ekstraksi ini  mampu memberikan dampak buruk bagi para pekerjanya, mengingat karbon sulfida sangat beracun. Paparan dari Karbon Sulfida (CS2) dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf serta memiliki kaitan masalah kesehatan lainnya.

Dari pantauan resiko tersebut, dapat dikatakan bahwa klaim kain bambu yang berkelanjutan ternyata tidak sesederhana itu. Manfaat dari bambu yang pertumbuhannya cepat ini terkikis karena proses produksinya yang ternyata beracun dan berpotensi untuk mencemari lingkungan.



Berdasarkan uraian di atas, serat bambu untuk industri tekstil nasional khususnya tekstil sandang, masih memiliki sejumlah permasalahan. Permasalahan utamanya terutama pada proses ekstraksi untuk mendapatkan serat dari bambunya. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai cara ekstraksi serat bambu yang lebih ramah lingkungan agar bisa menghasilkan serat bambu yang benar-benar berkelanjutan. Oleh karena itu, penggunaan serat bambu untuk industri tekstil masih belum maksimal untuk dijadikan alternatif bahan baku tekstil sandang nasional. 

Untuk meningkatkan nilai tambah pada bahan baku bambu ini terdapat solusi lain yaitu dengan menjadikan serat bambu sebagai bahan baku produk tekstil non sandang dan produk kreatif. Hal ini diharapkan dapat menjadi langkah awal mengurangi biaya proses dan efek pencemaran sebagaimana dihasilkan pada proses pembuatan rayon.

 


Sumber:


https://kemenperin.go.id/artikel/4819/BambuBelum-Maksimal


https://berkas.dpr.go.id/puskajianggaran/buletin-apbn/public-file/buletin-apbn-publ

ic-152.pdf


https://media.neliti.com/media/publications/54745-ID-ekstraksi-serat-bambu-dari-b

ambu-tali-gi.pdf


https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/


Download PDF