TRANSFORMASI DAN PENGUATAN STRUKTUR INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN DALAM KERANGKA PERENCANAAN NASIONAL

Oleh : Hamid Rizali Siregar (Sekretariat Direktorat Jenderal Industri Agro)

Sektor industri makanan dan minuman mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional, peningkatan ekspor dan penyerapan tenaga kerja.  Pada Triwulan II Tahun 2022, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi 5,44%, industri makanan dan minuman tumbuh 3,68%.  Industri makanan dan minuman merupakan sektor industri yang share nya paling besar dalam PDB Industri Pengolahan Non-Migas, yaitu mencapai 38,38%. Pertumbuhan Industri Makanan dan minuman menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal ini terlihat mulai dari periode pandemi covid-19, di Tahun 2020 dan 2021, dimana industri makanan minuman terbukti masih dapat bertahan dengan tetap tumbuh positif dan semakin meningkat hingga semester I tahun ini.

Di sisi ekspor, produk industri makanan dan minuman juga menunjukkan pertumbuhan yang baik. Pada Tahun 2021, ekspor bahkan bisa tumbuh hingga 44,10%. Dan, hingga Triwulan II Tahun 2022 ekspor tumbuh 8,89% jika dibandingkan dengan periode yang sama Tahun 2021. Peranan ekspor produk industri makanan minuman mencakup 20,94% dari ekspor industri pengolahan non-migas atau 15,13% dari ekspor nasional. Pertumbuhan ekspor ini dibarengi dengan pertumbuhan impor. Walaupun demikian, neraca perdagangan untuk produk industri makanan minuman masih mencatatkan nilai positif, dimana pada Triwulan II Tahun 2022 nilai neraca dagang produk industri makanan dan minuman tercatat sebesar USD 12,9 Milyar.

Proyek nasional untuk memperkuat infrastruktur di bidang F&B dan produktivitas pertanian

Indonesia saat ini sedang mengalami transformasi ekonomi. Sebagai negara yang kaya dengan beragam sumber daya pertanian, kelautan dan kehutanan, tidak heran jika Indonesia telah bersiap untuk mengadopsi pendekatan teknologi maju di sektor industri agro dan menciptakan nilai tambah sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Hal ini sejalan dengan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2020-2024 yang memberikan landasan kokoh menuju Indonesia maju melalui transformasi ekonomi di Tahun 2020-2024.

Visi dan misi RPJMN tersebut diterjemahkan ke dalam 7 agenda pembangunan dan untuk membuatnya lebih konkrit dalam menyelesaikan isu-isu pembangunan, terukur dan manfaatnya langsung dapat dipahami dan dirasakan masyarakat, disusunlah Proyek Strategis Nasional (Major Project). Proyek-proyek ini merupakan proyek yang memiliki nilai strategis dan daya ungkit tinggi untuk mencapai sasaran prioritas pembangunan.


Gambar 1. Proyek Strategis Nasional (Major Project) dalam RPJMN 2020-2024 yang mendukung Industri Makanan dan Minuman

Terdapat 41 Proyek Strategis Nasional dimana salah satunya menyasar langsung pada transformasi industry 4.0 di sektor industri makanan dan minuman. Selain itu, terdapat 40 Proyek Strategis lain yang juga pada akhirnya akan mendukung pengembangan dan penumbuhan industri makanan dan minuman berupa pembangunan pusat pertumbuhan seperti Kawasan industri, pembangunan soft infrastructure seperti Pendidikan vokasi atau pembangunan science techno park, dan juga Pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, kereta api, waduk, jaringan irigasi, infrastruktur energi, dan akses air minum.

Transformasi Industri 4.0 untuk menjawab tantangan tekini

            Upaya untuk melakukan transformasi Industry 4.0 dikemas dalam Making Indonesia 4.0 yang digagas oleh Kementerian Perindustrian dan telah dicanangkan sebelumnya secara langsung oleh presiden RI pada Tahun 2018.

            Ada 3 (tiga) aspirasi utama Making Indonesia 4.0, yaitu 10% kontribusi ekspor netto terhadap PDB, 2 kali peningkatan produktivitas terhadap biaya, dan 2% pengeluaran litbang (R&D) terhadap PDB.

Tujuh sektor industri telah ditetapkan sebagai fokus prioritas Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan busana, industri otomotif, industri kimia, industri elektronika, industri farmasi, dan industri alat kesehatan. Sektor ini dipilih karena dapat memberikan kontribusi sebesar 70% dari total PDB manufaktur, 65% ekspor manufaktur, dan 60% pekerja industri.

Sepuluh Prioritas Nasional yang dijalankan meliputi 1) Perbaikan Alur Aliran Material, 2) Mendesain Ulang Zona Industri, 3) Akomodasi Standar Sustainability, 4) Pemberdayaan UMKM, Membangun infrastruktur Digital Nasional, 6) Menarik Investasi Asing, 7) Peningkatan Kualitas SDM, 8) Pembetukan Ekosistem Inovasi, 9) Menerapkan Insentif Investasi Teknologi dan 10) Harmonisasi aturan dan kebijakan.

Tantangan di sektor industri makanan dan minuman meliputi tantangan dalam bidang bahan baku seperti buruknya infrastruktur pertanian dan rendahnya produktivitas pertanian. Tantangan di bidang pengolahan/ pengemasan antara lain meningkatnya biaya beban operasi sektor makanan dan minuman, serta kurang stabilnya pasokan bahan baku dari pasar domestik baik dari sisi kualitas dan kuantitas yang diharapkan sehingga meningkatkan ketergantungan impor. Tantangan di bidang perdagangan/ ritel antara lain tidak adanya pemain yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur dan mitra pengembangan teknologi dan logistik, rendahnya tingkat adopsi teknologi, serta maraknya tengkulak. Dan yang terakhir adalah tantangan di bidang logistik, yaitu tingginya biaya logistik dan kurang majunya infrastruktur rantai dingin yang menyebabkan kerusakan dan kehilangan makanan.

Pemanfaatan teknologi 4.0 pada setiap rantai nilai mulai dari hulu hingga hilir akan didorong untuk menjawab tantangan tersebut sehingga meningkatkan produktivitas dengan hasil yang dapat diprediksi, meminimalisir food loss pada setiap rantai nilai, mengintegrasikan rantai suplai sehingga menjadi lebih efisien, dan meningkatkan akses pemasaran bagi pelaku UMKM. Dengan modal sumber daya pertanian yang melimpah dan pasar dalam negeri yang besar serta diakselerasi oleh pemanfaatan teknologi 4.0, Indonesia dapat menjadi basis produksi bagi industri makanan dan minuman di regional dan menjadi 5 besar eksportir produk makanan minuman dunia.

Sejak diluncurkan secara resmi pada Tahun 2018, Kementerian Perindustrian telah berusaha mengimplementasikan industri 4.0 kepada sektor industri Makanan dan Minuman melalui berbagai upaya diantaranya sebagai berikut:

1.    Penunjukan Lighthouse Implementasi Industri 4.0 di Sektor Makanan dan Minuman di Indonesia, yaitu PT Indolakto Purwosari, yang dapat menjadi role model bagi industri lain untuk melakukan transformasi digital ke implementasi industri 4.0.

2.    Bimbingan Teknis Transformasi Industri 4.0 untuk 315 SDM di Perusahaan Industri Makanan dan Minuman serta 800 SDM koperasi susu yang bermitra dengan industri pengolahan susu. Bimbingan Teknis ini berisi pengetahuan utama aspek teknologi, hukum, kontrol kinerja untuk menyiapkan menjadi motor dalam penerapan industri 4.0 di perusahaan hingga pendampingan bagi perusahaan industri.

3.    Perbaikan rantai pasok industri makanan dan minuman melalui penerapan neraca komoditas (antara lain komoditas Gula, Daging, Ikan, Beras) dan piloting kemitraan dan digitalisasi di industri pengolahan susu.

4.    Pembangunan Pusat Inovasi dan Pengembangan SDM Industri 4.0, yang akan memberikan 5 pilar layanan, yaitu: Showcase Center, Capability Center, Ekosistem Industry 4.0, Delivery Center, dan Innovation Center.

5.    Dalam rangka mendorong industri manufaktur untuk melakukan inovasi teknologi, meningkatkan kegiatan riset, dan meningkatkan kapasitas SDM industri, Pemerintah telah mengeluarkan insentif berupa super deduction tax. Insentif pajak ini berupa pengurangan penghasilan bruto kena pajak sebesar 200% dari kegiatan vokasi & magang, pengurangan penghasilan bruto kena pajak hingga sebesar 300% dari kegiatan riset, serta pengurangan pajak penghasilan netto 60% dari total penanaman modal untuk industri padat karya.

6.    Indonesia akan menjadi Official Partner Country Hannover Messe Tahun 2023. Hannover Messe adalah pameran internasional terbesar di sektor teknologi dan solusi industri akan dijadikan sebagai platform mengkampanyekan secara global insiatif strategis Indonesia dalam industri 4.0. Manfaat yang diperoleh dari keikutsertaan ini adalah terjadinya peningkatan peluang ekspor, investasi, kerja sama bisnis, serta peningkatan lapangan kerja.

Keberpihakan terhadap Industri dalam negeri dan pentingnya kolaborasi setiap stakeholders lokal untuk penguatan struktur industri

            Kolaborasi merupakan salah satu kata kunci agar seluruh upaya dan cita-cita ini bisa terwujud. Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri. Seluruh sumber daya yang dimiliki baik berupa SDM, teknologi, bahan baku, bahan penolong dan jasa yang tersedia di dalam negeri harus dioptimalkan untuk menciptakan nilai tambah pada produk akhir di industri makanan dan minuman. Dengan demikian, kita akan merasakan secara penuh manfaat dari seluruh usaha yang kita lakukan untuk kemajuan bangsa ini.

            Sebagai bentuk keberpihakan pada industri dalam negeri pemerintah melaksanakan Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Program ini memberikan preferensi bagi produk dalam negeri pada pembelian barang/jasa yang dilakukan oleh pemerintah serta BUMN/BUMD/swasta yang sumber pembiayaannya berasal dari negara atau menggunakan sumber daya yang dikuasai negara. Pada tahun ini pemerintah berkomitmen sebesar Rp400 Triliun dari anggaran belanja pemerintah untuk pembelian Produk Dalam Negeri pada belanja barang/jasa pemerintah. Beberapa pengadaan barang/jasa pemerintah yang terkait produk makanan dan minuman antara lain untuk bantuan sosial yang berupa makanan dan minuman, makanan dan minuman rapat/pertemuan/seminar/event, serta penyediaan pangan fungsional kesehatan seperti makanan tambahan bayi atau ibu hamil/menyusui.

            Potensi pengadaan makanan dan minuman pada pengadaaan pemerintah sendiri cukup besar. Sebagai gambaran, potensi pemanfaatan P3DN untuk produk makanan dan minuman pada 8 Kementerian dengan anggaran terbesar saja bisa mencapai hingga Rp1,2Triliun.  Syarat utama untuk memanfaatkan potensi ini hanya satu, yaitu sebesar-besarnya meningkatkan komponen lokal (local content) pada produk sehingga bisa mendapatkan preferensi pada pengadaan barang/jasa pemerintah.

            Untuk meningkatkan komponen lokal, maka diperlukan kolaborasi dari setiap stakeholder lokal di setiap rantai nilai untuk saling melengkapi satu sama lain sehingga dihasilkan produk akhir yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi. Dengan demikian, secara tidak langsung dengan adanya program P3DN akan mendorong lebih cepat kolaborasi setiap stakeholders lokal untuk terus berinovasi dan mengembangkan produknya menggunakan sumberdaya lokal yang ada di dalam negeri.

Penguatan struktur industri makanan dan minuman merupakan strategi yang harus diambil mengingat pasar Indonesia dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa adalah peluang yang harus dioptimalkan oleh bangsa ini sendiri. Untuk mencapai cita-cita indsutri makanan dan minuman yang Tangguh dibutuhkan koordinasi dan sinergi baik antar kementerian/lembaga terkait, sektor hulu agro, penyedia teknologi, pelaku usaha industri, dan akademisi/perguruan tinggi.