GELIAT INDUSTRI PENGOLAHAN DAGING DENGAN IMPLEMENTASI PERJANJIAN IA CEPA

Oleh : Laudetta Dianne F (Sekretariat Direktorat Jenderal Industri Agro - Kementerian Perindustrian)

Industri pengolahan daging adalah salah satu industri Indonesia yang berpotensi untuk mengalami pertumbuhan yang pesat. Mintel, perusahaan intelligence marketing yang berbasis di London, menyebutkan bahwa Indonesia saat ini adalah salah satu pemasok produk olahan daging dan unggas dunia dengan perkembangan rata-rata omset tahunan industri pengolahan daging tercepat hingga 26,7% (tahun 2011-2015), disusul oleh India (22%), Vietnam (15,5%), China (13,9%), dan Brazil (10,9%). Mintel memperkirakan bahwa pada 2016 pasar pengolahan daging dan unggas Indonesia di tingkat global bernilai sekitar 16 triliun rupiah, sedangkan pada tahun yang sama pasar India bernilai sekitar 11 milyar rupee. Perkiraan nilai untuk pasar industri pengolahan daging dan unggas Vietnam, China, dan Brazil adalah VND10 triliun, CNY275 milyar, dan BRL 12 milyar (http://www.mintel.com/press-centre/food-and-drink/convenience-in-asia).

Asosiasi Industri Pengolahan Daging (NAMPA) memperkirakan bahwa pertumbuhan industri pengolahan daging Indonesia meningkat sebesar 7% per tahun dengan memanfaatkan kapasitas dalam negeri. Kementerian Perindustrian sendiri mencatat bahwa sektor industri pengolahan daging tumbuh mencapai 28,87% pada 2019, dengan volume produksi sebesar 242.791 ton. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2016 yaitu sebesar 188.391 ton. Pada masa pandemi Covid-19 perkembangan industri pengolahan daging Indonesia sempat mengalami penurunan. Sepanjang tahun 2020, industri pengolahan daging Indonesia mengalami kontraksi 2% secara tahunan. Secara utilisasi, penurunan terjadi sebesar 3% sehingga total penurunan utilisasi adalah sebesar 60%. Meski demikian, pada masa pemulihan pasca pandemi ini nilai industri pengolahan daging Indonesia semakin membaik dengan peningkatan utilisasi hingga 70%.

Perkembangan industri pengolahan daging Indonesia, termasuk daging sapi, sayangnya tidak didukung dengan pertumbuhan penyediaan daging mentah lokal Indonesia. Saat ini nilai suplai daging mentah lokal Indonesia masih berada di bawah nilai pertumbuhan industri pengolahan daging Indonesia, bahkan cenderung stagnan. Hal ini menjadi poin yang perlu diperhatikan, sebab untuk memenuhi kebutuhan suplai daging mentah untuk industri pengolahan daging, Indonesia masih mengandalkan negara lain. Impor daging mentah Indonesia masih didominasi oleh Australia sebagai pemasok utama. Pada tahun 2017, BPS memperhitungkan impor daging sapi Australia sebanyak 852ribu ton, disusul oleh suplai impor dari India sebanyak 452ribu ton dan Amerika sebanyak 144ribu ton.

Australia adalah salah satu produsen daging sapi global terbesar dan penyuplai utama daging sapi untuk industri pengolahan daging Indonesia. Selain itu, tingkat kemajuan teknologi pengolahan maupun produksi produk daging setengah jadi Australia sudah cukup tinggi. Meskipun Indonesia masih berpeluang untuk meningkatkan industri pengolahan daging tanpa bergantung dengan satu pihak eksternal saja, kemungkinan pemanfaatan perkembangan suplai daging dan teknologi dari Australia diperkirakan akan mampu mengembangkan industri pengolahan daging Indonesia dengan lebih baik lagi.

Perkembangan dari industri pengolahan daging Indonesia yang lebih pesat dibandingkan pertumbuhan industri peternakan lokal tentu saja sangat mempengaruhi peluang industri daging olahan Indonesia. Ketimpangan jumlah produksi peternakan dengan kebutuhan membuat kebutuhan akan daging mentah impor sebagai bahan baku akan meningkat. Dalam hal ini, kebutuhan impor daging utamanya daging sapi berpeluang untuk diakomodir oleh Australia.

Saat ini, Indonesia telah melakukan ratifikasi terhadap perjanjian ekonomi Indonesia-Australia CEPA. Perjanjian kerjasama di bidang ekonomi ini dilakukan berdasarkan emergensi dari Global Value Chains (GVC). Global Value Chains adalah suatu proses untuk menghasilkan suatu produk  barang jadi (end product) yang melibatkan beberapa negara mulai dari proses produksi hingga proses pemasarannya. Pada konsepnya, adanya perjanjian kerja sama untuk GVC ini tidak bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan peluang dari satu pihak untuk bisa memasuki pasar pihak lainnya. Tujuan utama dari perjanjian kerja sama berbasis peningkatan GVC adalah untuk memanfaatkan sumber daya dari masing-masing pihak untuk meraih keuntungan/manfaat bersama.

Australia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alamnya, sama seperti Indonesia. Meski demikian, kedua negara ini memiliki kompetensi utama yang berbeda satu sama lain. Australia dikenal sebagai penghasil produk makanan dan minuman yang berkualitas. Selain itu, Australia juga merupakan pemasok utama dari daging merah mentah dan produk berbahan dasar susu (dairy products). Di sisi lain, Indonesia saat ini memiliki industri dan ekonomi yang berkembang. Sebagai tambahan, Indonesia diprediksikan akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2030 mendatang. Dalam hal ini, peluang Indonesia untuk tumbuh juga semakin tinggi.

Sehubungan dengan kerja sama GVC ini, baik Australia maupun Indonesia dapat berkolaborasi dengan baik. Australia dapat berperan sebagai supplier bahan mentah untuk industri Indonesia, khususnya dalam industri makanan minuman. Indonesia akan menjadi negara produsen, dan dengan bantuan dari Australia, akan dapat menghasilkan produk yang berkualitas. Indonesia pun akan dapat menggunakan jaringan pasar Australia dalam industri makanan dan minuman.

Dalam kaitannya dengan industri pengolahan daging, peluang kerja sama antara Indonesia dan Australia tidak terbatas pada penyediaan bahan mentah saja. Bersamaan dengan meningkatnya industri pengolahan daging, kebutuhan akan produk setengah jadi (intermediate goods) juga meningkat. Beberapa kebutuhan produk setengah jadi tersebut antara lain seperti bahan pembungkus (casing), Texturized Vegetable Protein (TVP), rempah dan bumbu, bahan tambahan pengisi (fillers), bahan pengikat (binders), dan sebagainya. Adanya kebutuhan akan produk-produk ini diharapkan membuka peluang bagi Australia untuk berinvestasi dan membuka pabrik di Indonesia. 

Peningkatan industri juga membutuhkan tenaga kerja yang kompeten di bidangnya. Australia memiliki kompetensi untuk training untuk industri daging merah/sapi, termasuk industri pengolahan daging. Adanya kerja sama Indonesia-Australia ini diharapkan membuka peluang untuk kerjasama dalam peningkatan kompetensi pekerja Indonesia dalam proses pengolahan daging.

Potensi peningkatan industri pengolahan daging Indonesia tidak terbatas pada potensi meningkatnya ekspor, tetapi juga dalam hal pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Lembaga riset GIRA memperkirakan volume konsumsi daging sapi Indonesia pada tahun 2022 akan mencapai 840ribu ton. Jumlah ini meningkat 8,3% jika dibandingkan dengan volume konsumsi masyarakat pada tahun 2018 yaitu sebanyak 770ribu ton.

Selain itu, saat ini di Indonesia terjadi pertumbuhan pada jumlah kelompok masyarakat kelas atas dan menengah (middle and upper classes). Kelompok masyarakat ini memiliki kecenderungan untuk mencari dan mengkonsumsi produk berdasarkan sisi kenyamanan/kemudahan. Sesuai dengan produk yang dihasilkan, tentu ini akan menjadi peluang pasar domestik untuk produk olahan daging Indonesia.

Tren konsumsi yang terjadi bukan hanya berasal dari pergeseran strata kelas sosial saja. Pada era revolusi 4.0 ini perkembangan teknologi digital bukan hanya memiliki pengaruh pada proses manufaktur industri. Pada acara bertajuk Beef Talk: Towards Industry 4.0 yang dihelat di Jakarta tahun 2019, pihak dari Meat & Lifestock Australia (MLA) menyatakan bahwa perkembangan teknologi digital telah turut mempengaruhi perilaku konsumen. Kemudahan dan kenyamanan dalam proses jual-beli kini dapat dengan mudah diakses dengan teknologi digital. Hal inilah yang pada akhirnya mengembangkan pola marketing dari berbagai produk industri, termasuk juga pada produk industri pengolahan daging Indonesia.

Lebih lanjut, kecenderungan masyarakat dunia untuk mencoba produk kuliner asli negara lain juga meningkat. Sebagai contoh, kuliner dari negara Thailand, Turki, dan Italia cukup diminati di pasar global. Melihat tren ini maka sudah saatnya kuliner Indonesia yang berbahan baku olahan daging dan unggas terproses untuk masuk dalam pasar global. Beberapa jenis kuliner Indonesia tersebut seperti hidangan rawon, rendang, soto, opor dan lain sebagainya.

Potensi untuk melakukan penetrasi pasar baik pasar domestik maupun mancanegara untuk produk olahan daging dan unggas ini memiliki prospek yang baik di masa mendatang. Tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana memproduksi kuliner nasional/etnik dengan kualitas yang baik, harga terjangkau, halal, sehat dan diterima oleh pasar. Dalam hal produksinya, tentu diperlukan kerja sama yang baik terkait pengembangan produk dan membuat inovasi yang sesuai. Oleh karena itu, diperlukan kompetensi dan pengetahuan tentang pengolahan produk agar memenuhi standar keamanan pangan.

Terkait peluang pemasarannya, Indonesia dapat menggunakan jejaring pasar yang dimiliki Australia untuk bisa meningkatkan potensi ekspor produk olahan daging. Hal ini disebabkan Australia sudah dikenal sebagai produsen daging kelas dunia. Terkait potensi kesesuaian citarasa kuliner etnik produk olahan daging Indonesia, maka negara-negara dengan populasi besar seperti negara di benua Asia maupun Afrika adalah pasar yang cukup potensial. Ini dikarenakan, selain populasi yang besar, negara-negara tersebut sudah cukup menerima cita rasa kuliner dengan rempah dan bumbu seperti ciri khas kuliner etnik Indonesia.

Pada usaha peningkatan industri pengolahan daging Indonesia yang didasari oleh adanya ratifikasi perjanjian Indonesia-Australia CEPA ini tentu bukan hanya menitikberatkan pada penerapan kebijakan dan aturan dagang antar kedua negara. Tidak dipungkiri bahwa perjanjian Indonesia-Australia CEPA ini mengakomodir relaksasi ekspor impor antar negara dengan penerapan Product Specific Rules (PSR) dan bea masuk yang disepakati. Namun, pemberian kemudahan dalam segi perdagangan saja tidak akan cukup. Dari segi keamanan pangan, kualitas dan kuantitas adalah hal yang sangat penting.


Teknologi industri pengolahan daging Indonesia sendiri sudah cukup maju di bidangnya. Hal ini dibuktikan dari berhasilnya ekspor produk olahan daging Indonesia menembus pasar Jepang. Meskipun produk tersebut utamanya adalah produk berbahan dasar unggas, namun ini tetap menjadi satu kesatuan dalam industri pengolahan meat and poultry Indonesia. Ekspor produk olahan daging unggas dari PT Malindo Food Delight ini menunjukkan bahwa industri olahan unggas Indonesia sudah tergolong maju dan mampu memenuhi standar food safety dari negara Jepang yang terkenal ketat dalam seleksi masuk untuk produk ekspor negara lain.

Dalam pemenuhan standar kualitas dari produk olahan daging merah, Indonesia masih perlu melakukan beberapa peningkatan. Beberapa produk olahan daging Indonesia seperti bakso daging, sosis daging, kornet daging, burger daging, rolade daging, daging luncheon, dan daging asap diketahui masih belum memenuhi standar. Hal ini diketahui saat dilakukan perbandingan kadar protein dan lemak dengan standar internasional untuk produk olahan daging sejenis. Hasil pengujian yang dilakukan oleh Balai Besar Industri Agro (BBIA) menemukan bahwa kadar protein yang terkait dengan persyaratan kandungan daging pada produk daging olahan Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan dengan standar internasional. Meskipun demikian, produk olahan daging tersebut bukan berarti tidak cukup berkualitas. Produk olahan daging Indonesia yang beredar di pasar domestik telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Ketimpangan ini disebabkan dengan faktor ketersediaan bahan baku daging yang berhubungan dengan harga jual produk daging dan daya beli masyarakat. Namun demikian, hal ini tidak dapat menjadi justifikasi pemenuhan standar kualitas pangan produk olahan daging Indonesia. Jika produk olahan daging Indonesia diharapkan dapat meningkat nilai ekspornya maka peningkatan kualitas harus dilakukan agar dapat memenuhi standar gizi dan keamanan pangan internasional. Upaya peningkatan kualitas hasil industri pengolahan daging ini menjadi salah satu tujuan utama dari implementasi perjanjian kerja sama Indonesia-Australia CEPA.

Pada akhirnya, kerja sama antara Indonesia dan Australia akan dapat terjalin dengan baik dan saling menguntungkan jika kedua belah pihak mampu berkontribusi sesuai keunggulannya. Pada implementasi dari perjanjian kerja sama Indonesia-Australia CEPA ini, perlu dilakukan oleh kedua pemerintahan dan para pelaku industri terkait. Sebagai contoh implementasi tersebut adalah kerja sama antara Asosiasi Industri Pengolahan Daging (NAMPA) dengan Pemerintah Australia. Diharapkan NAMPA akan menyetujui MoU yang menyatakan bahwa NAMPA siap menggunakan daging dari Australia dan menggantikan produk setengah jadi yang sebelumnya diimpor dari Uni Eropa dan China dengan produk yang dihasilkan dari perusahaan Joint Venture antara industri Indonesia dengan Australia yang berbasis kerangka kerja sama investasi di Indonesia.