FACT DIALOGUE - PETA JALAN UNTUK PRODUK PERTANIAN DAN HUTAN BERKELANJUTAN

Oleh : Laudetta Dianne F (Kementerian Perindustrian)


FACT Dialogue adalah acara lanjutan yang diadakan oleh COP26 dan didukung oleh TFA (Tropical Forest Alliance/Aliansi Hutan Tropis) yang berfokus pada percepatan transisi untuk penggunaan lahan hutan dan pertanian yang lebih berkelanjutan. FACT adalah singkatan dari Forest, Agriculture, and Commodity Trade (Hutan, Pertanian, dan Perdagangan Komoditas). Sesuai dengan singkatan tersebut maka tujuan utama dari diadakannya dialog ini adalah untuk mendorong perdagangan dan pengembangan yang berkelanjutan seraya melindungi hutan dan ekosistem penting lainnya. Dialog ini diadakan di Glasgow pada 1-12 November 2021 dipimpin oleh Indonesia sebagai Co-chair bersama Inggris. Pada acara ini sebanyak 30 negara turut berpartisipasi dan 25 negara telah mendukung prinsip-prinsip bersama untuk tindakan kolaboratif yang berkomitmen untuk bekerja sama untuk melindungi hutan dunia sembari mempromosikan perdagangan berkelanjutan. 

Dialog ini diawali oleh pertemuan COP26 di Paris yang membahas tentang masalah perubahan iklim bumi dan peningkatan suhu tiap tahunnya. Masalah perubhan iklim ini adalah hal mendesak yang perlu ditangani dan semua negara berkomitmen untuk membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1.5 °C. Sejak tahun 2015 ketika perjanjian itu ditandatangani telah terjadi peningkatan iklim yang ekstrim  yang berlanjut dengan banyaknya bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Tanpa tindakan yang nyata dan kerjasama dari semua negara, kenaikan temperature global tidak akan bisa diatasi dan akan membahayakan masa depan planet kita.

Peningkatan suhu bumi disebabkan oleh meningkatnya gas karbon yang menyebabkan efek rumah kaca yang merusak lapisan ozon. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 25% dari emisi Human Greenhouse Gas (GHG) berasal dari aktivitas penggunaan lahan pertanian, hutan, dan lahan lainnya. Sebagai contoh, 2 gigaton gas rumah kaca, setara dengan 2 kali emisi gas tahunan India, dilepaskan ke atmosfir bumi yang disebabkan oleh deforestasi hutan. Deforestasi ini berkaitan dengan produksi komoditas pertanian seperti daging sapi, minyak kelapa sawit, kacang kedelai/soya, cokelat, dan kayu lapis. Aktifitas Guna Lahan Pertanian, Kehutanan dan Lainnya (AFOLU) menghasilkan sekitar 13% emisi CO2, 44% Metana (CH4), dan 81% Oksida Nitrat (N2O) dalam periode 2007-2016, dan jumlah tersebut menyumbang 23% total antropogenik bersih emisi gas rumah kaca (GRK). Di sisi lain, sekitar 6 miliar manusia di seluruh dunia, utamanya di negara berkembang, bergantung pada produksi dan perdagangan komoditas pertanian dan hutan tersebut untuk menunjang kehidupan mereka. Oleh karena itu, pemerintah menyadari pentingnya aksi kolaboratif untuk mengatasi masalah deforestasi dan membuat kegiatan pertanian yang lebih berkelanjutan. Hal inilah yang menjadi landasan pengembangan peta jalan FACT Dialogue yang tidak hanya berfokus pada aksi menjaga iklim bumi tetapi juga keberlangsungan hidup dari petani dan komunitasnya.

FACT Dialogue mempertemukan negara-negara produsen dan konsumen utama dari komoditas agrikultur. Pertemuan ini bukan hanya terbatas pada pertemuan G2G/antar Pemerintah saja, tetapi dialog ini juga memfasilitasi konsultasi multi-stakeholders yang berkaitan dengan produksi hingga perdagangan produk agrikultur. Semua pihak yang berkepentingan diantaranya adalah petani lokal, praktisi di akar rumput, pekerja perkebunan, pekerja hutan, masyarakat adat dan komunitas lokal, institusi keuangan, produsen produk local hingga global, supplier regional dan lanjutan, organisasi sosial, akademisi, pemimpin muda, hingga konsumen akhir.

Para peserta FACT Dialogue yang terdiri dari berbagai pihak tersebut dibagi menjadi beberapa gugus tugas yang melakukan diskusi tentang 4 bidang tematik yaitu: perdagangan dan pengembangan pasar; dukungan terhadap petani kecil; ketelusuran dan transparansi; dan penelitian, pengembangan , dan inovasi. Keempat kelompok kerja tematik tersebut dipimpin oleh fasilitator di bidangnya untuk saling berbagi ide, informasi, dan pengalaman terkait usaha pengelolaan lahan pertanian dan hutan yang berkelanjutan. Kemudian masing-masing kelompok tersebut akan bertukar praktik terbaik dan mendiskusikan tindakan yang diambil oleh negara-negara yang berkolaborasi. Empat gagasan identifikasi penanganan dan alternatif tindakan tersebut bersifat tidak menyeluruh, tidak mengikat, dan tidak berlaku dalam semua keadaan dari semua negara. Hal ini dikarenakan tiap negara itu unik dan berbeda sehingga masing-masing negara dapat mengadopsi tata cara penanganan dan solusi yang paling sesuai dengan kondisi mereka.

 

Perdagangan dan Perkembangan Pasar

Isu perdagangan dan pengembangan pasar adalah isu utama dari FACT Dialogue. Prioritas dari penanganan masalah ini adalah bagaimana mengamankan pangsa pasar dan menumbuhkan permintaan pasar yang baik untuk hasil pertanian dan hutan yang berkelanjutan. Untuk tujuan tersebut maka langkah-langkah yang ditempuh harus didasarkan dari sisi penawaran dan permintaan pasar. Hal ini yang kemudian memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak dari produsen, rantai suplai, hingga konsumen.

Pada kelompok kerja isu perdagangan dan pengembangan pasar, Kolumbia menjadi ketua dan fasilitator. Dari diskusi yang dilakukan, didapat beberapa poin tindakan yang mungkin bisa diimplementasikan dan didiskusikan lebih lanjut:

1. Mencari dan melaksanakan pilihan-pilihan terkait kebijakan pasar dan perdagangan. Pilihan dari sisi penawaran dan permintaan yang dibuat saling melengkapi dan memperkuat usaha peningkatan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan dengan lebih baik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan yang ada antara kebijakan produksi dan konsumsi

2. Memetakan apa saja cara FACT Dialogue untuk dapat lebih mendukung proses dan forum internasional lainnya yang membahas isu-isu keberlanjutan dalam hal perdagangan dan pasar dari produk agrikultur

3. Membangun pemahaman bersama antar negara-negara produsen dan konsumen tentang faktor-faktor yang diperlukan untuk produksi berkelanjutan. Tindakan ini akan diambil dari pengalaman dan praktik standar nasional dan internasional yang ada dan telah dilakukan oleh negara-negara tersebut.

4. Mencari cara untuk memperkuat dan memperluas pengakuan pasar internasional dalam memberikan jaminan keberlanjutan. Hal ini dilakukan berdasarkan pendekatan masng-masing negara tentang jaminan produk berkelanjutan. Diharapkan tindakan ini akan membangun pemahaman bersama tentang kepentingan konsumen dalam praktik berkelanjutan, serta persyaratan nasional di negara-negara produsen, dan memfasilitasi akses pasar terhadap produk agrikultur yang berkelanjutan


Dukungan untuk Petani Kecil

Dalam hal pengelolaan lahan pertanian dan hutan serta produksi hasil agrikultur, petani kecil memiliki pengaruh besar. Petani kecil lah yang banyak berkontribusi dalam produksi global dari komoditas agrikultur yang kemudian dikaitkan dengan deforestasi. Selain itu, mereka pula lah pihak yang terdampak secara langsung dengan masalah perubahan iklim dunia. Pada usaha penanggulangan peningkatan suhu global dan produksi komoditas berkelanjutan, petani kecil juga mendapatkan tantangan untuk turut mengikuti standar sustainable goods yang akan dikenakan. Jika petani kecil tidak teredukasi dengan baik tentang standar ini maka mereka beresiko mengalami ketertinggalan dan tidak akan dapat bertahan dalam persaingan pasar akan kebutuhan produk pertanian berkelanjutan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut didapatkan beberapa tindakan solutif dari gugus kerja dukungan terhadap petani kecil yang diketuai oleh Malaysia dan Ghana, yaitu:

1. Memetakan dan membuat skema dukungan petani kecil berupa pilihan pendekatan yang berbeda, menilai dampak dari pendekatan yang berbeda pada hasil keberlanjutan, mengidentifikasi kesenjangan untuk kemudian memperkuat upaya nasional dan internasional di bidang pertanian.

2. Bertukar praktik terbaik dan mengidentifikasi pendekatan yang efektif untuk meningkatkan dukungan dan pembiayaan bagi petani kecil (termasuk melalui skema dukungan nasional, kemitraan publik-swasta, sektor swasta, sektor keuangan, dan Official Development Assistance/ODA (Bantuan Pembangunan ResmI). Bantuan ini dapat mencakup dukungan untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, guncangan pasar, dan risiko besar lainnya terhadap mata pencaharian petani kecil.

3. Meningkatkan akses dan ketersediaan pembiayaan bagi petani kecil, termasuk untuk mendukung transisi menuju produksi yang berkelanjutan; dan memberikan kepastian pendapatan hidup, jaminan kepemilikan, pengembangan kapasitas, pelatihan dan bantuan teknis yang diperlukan.


Ketelusuran dan Transparasi

Ketelusuran dan transparasi ini berhubungan dengan pengembangan sistem dan teknologi. Dengan adanya sistem dan teknologi yang mendukung, maka akuntabilitas dari hasil produksi komoditas agrikultur dapat dipertanggungjawabkan. Ketelusuran dan transparansi ini terkait dengan sertifikasi produk dan jaminan asal komoditas. Dalam diskusi gugus kerja yang diketuai Ghana ini, didapat beberapa hasil yaitu:

1. Menilai sistem ketertelusuran dan transparansi yang ada. Hal ini dilakukan untuk dapat mengidentifikasi kesenjangan data paling signifikan yang perlu ditangani untuk memungkinkan ketertelusuran dan transparansi dalam rantai pasokan komoditas kehutanan dan pertanian internasional.

2. Membuat SOP dan pedoman kerja, bekerjasama dengan organisasi internasional menginformasikan pendekatan pemerintah nasional untuk berbagi data dan pengelolaan data tentang produksi hutan dan pertanian, dan rantai pasokan komoditas. Pedoman tersebut meliputi kesanggupan dalam mentaati hukum dan kebijakan nasional, dan memungkinkan pemantauan dan perlindungan yang lebih baik terhadap hutan dan ekosistem penting lainnya. Pedoman tersebut mempertimbangkan dan mengakui pentingnya komitmen pemerintah dan pemangku kepentingan yang ada, biaya, teknologi, interoperabilitas, dan aksesibilitas sekaligus melindungi masyarakat yang rentan. Pembuatan pedoman ini tetap menyadari bahwa negara-negara menghadapi tantangan yang berbeda dalam mengembangkan sistem data mereka, dan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan, pedoman ini juga dapat merekomendasikan cara-cara bagi pemerintah untuk lebih meningkatkan target mereka. Selain itu, perlu didiskusikan tentang cara terbaik untuk menerapkan pedoman dalam sistem internasional. 

3. Mendukung negara dan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi dan mengakses pendanaan, bantuan teknis, dan pembangunan kapasitas untuk memperkuat ketertelusuran dan sistem transparansi serta integrasi antar sistem.


Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi

Gugus kerja dalam penelitian, pengembangan, dan inovasi dipimpin oleh Brazil. Mereka memandang perlunya penelitian, pengembangan, dan inovasi di bidang agrikultur untuk meningkatkan produksi komoditas agrikultur yang berkelanjutan dengan cara yang efektif dan efisien. Berikut ini tindakan yang didiskusikan oleh gugus kerja ini:

1. Mempercepat inovasi seperti intensifikasi pertanian berkelanjutan, meminimalkan perluasan lahan, termasuk melalui oneCGIAR, Agriculture Innovation Mission for Climate [Misi Inovasi Pertanian untuk Iklim] (AIM4C), dan Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases [Aliansi Riset Global tentang Gas Rumah Kaca Pertanian] (GRA), dan koalisi untuk mendukung Agenda Aksi Global tentang Inovasi dalam Pertanian. 

2. Memperkuat kapasitas lembaga nasional untuk melakukan dan memimpin kemitraan penelitian, dan menyebarluaskan informasi serta meningkatkan praktik terbaik di kalangan petani melalui berbagai kerjasama.

3. Menyebarluaskan penelitian, pengembangan, dan inovasi untuk mendukung tujuan FACT Dialogue, termasuk inovasi pada praktik pengelolaan, seperti pendekatan lanskap yang menyeimbangkan produksi dengan perlindungan; dan diseminasi pengetahuan untuk mendukung perdagangan dan pasar, dukungan petani kecil dan tema ketertelusuran dan transparansi.

4. Berinvestasi pada penelitian dan inovasi pertanian untuk mendapatkan dan mempromosikan teknologi dan praktik pertanian rendah emisi yang lebih tahan terhadap iklim


Dalam dialog ini Indonesia memiliki peranan yang besar. Selain dengan menjadi co-chair, hal ini dibuktikan dengan komitmen Indonesia untuk turut serta megurangi emisi karbon dalam pelaksanaan kegiatan produksi agrikulturnya. Tindak lanjut dari FACT Dialogue ini adalah dilaksanakannya rapat koordinasi kemajuan acara COP26: FACT Dialogue pada tanggal 7 Juni 2022 yang dipimpin oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Rapat ini menghasilkan beberapa kebijakan lanjutan yang akan menjadi langkah nyata Indonesia untuk memenuhi the joint-principles for collaborative action yang telah disetujui dalam FACT Dialogue tersebut.