KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN AGRO INDUSTRI NASIONAL DI ERA VUCA

Oleh: Rifqi Ansari

VUCA – Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity – secara luas diakui oleh para ahli termasuk ahli di bidang industri agro sebagai rangkaian tantangan paling kritis yang dihadapi oleh perusahaan industri agro saat ini. Kemajuan teknologi yang terus-menerus dan eksponensial, skenario sosial dan politik yang terus berubah, dan kondisi pandemi yang menghantam dunia global termasuk Indonesia, merupakan faktor paling signifikan yang berkontribusi pada pencapaian tujuan pengembangan industri agro. Gambaran tentang tantangan dan karakteristik VUCA pada industri agro, antara lain: 

1. Volatility: skala dan jenis perubahan dalam pemasaran ekspor, pengendalian impor serta penyediaan bahan baku di masa pandemi terjadi setiap hari, tidak dapat diprediksi, dramatis, dan cepat sehingga merubah sistem rantai pasok yang terbentuk selama ini.

2. Uncertainty: Menjadi semakin sulit membuat prediksi untuk ekspor, mendapatkan bahan baku dan bahan penolong untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

3. Complexity: pada saat ini kompleksitas pengembangan bisnis industri agro semakin rumit dan menimbulkan kesulitan dalam mengelola suatu perusahaan industri agro dari hulu ke hilir. Terutama kaitannya dalam pemilihan dan pengembangan teknologi yang semakin kompleks dalam perusahaan industri agro.

4. Ambiguity: semakin tidak jelas dalam memahami permasalahan dan solusi yang akan diambil dalam mengelola perusahaan dalam mewujudkan tujuan pengembangan industri agro.

Dalam menghadapi berbagai ketidakpastian di era VUCA, pemerintah mendorong industri untuk menjalankan kebijakan dan strategi dengan tahapan sebagai berikut:

1. Build resilience meningkatkan efisiensi perusahaan, penghematan dari berbagai pemborosan, mengurangi reject, menerapkan konsep just in time, baik dalam pengadaan bahan baku, proses, dan pemasaran.

2. Siapkan cadangan sumber daya sebagai antisipasi kalau ada tindakan-tindakan cepat yang harus dilakukan. Seperti memastikan tersedianya sumber-sumber bahan baku dan bahan penolong alternatif apabila ada permintaan yg berubah baik dari sisi volume, jenis dan kualitas.

3. Pastikan apa sasaran dan target yg ingin dicapai. Misalnya, kemana produk akan dipasarkan. Berapa jumlahnya dan berapa target keuntungan yg dapat dicapai serta apa langkah-langkah tindakan yg akan disiapkan

4. Dibangun semangat untuk terus berinovasi dan berimprovisasi sehingga perusahaan selalu siap mengantisipasi skenario terburuk yang dapat terjadi. 

5. Siapkan rencana cadangan atau alternatif untuk bisa lebih baik dari kompetitor utama seperti dari sisi kualitas, inovasi produk, harga, dan pemenuhan kepuasan konsumen.


Industri agro merupakan sub sektor industri pengolahan non-migas yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap PDB Industri Pengolahan Non-Migas.  Berdasarkan data pada Triwulan III Tahun 2020 kontribusi industri agro mencapai 52,13%. Dalam Sub Sektor Industri Agro, industri makanan dan minuman memberikan kontribusi terbesar (39,19%) dan diikuti oleh industri pengolahan tembakau (4,73%), industri kertas dan barang dari kertas (4,01%), industri kayu, barang dari kayu, rotan dan furnitur (2,80%).

Pertumbuhan industri agro selama periode 2015-2019 rata-rata tumbuh 6,34% diatas rata-rata pertumbuhan industri pengolahan non-migas yaitu sebesar 4,69%. Sementara itu, industri makanan dan minuman yang merupakan kontributor terbesar dalam industri agro rata-rata pertumbuhan lebih tinggi yaitu sebesar 8,16%. Sepanjang triwulan III tahun 2020 terjadi kontraksi pertumbuhan industri non migas tumbuh negatif 4,02%, dimana industri agro tumbuh negatif 0,45%. Walaupun demikian industri makanan dan minuman masih tumbuh positif sebesar 0.66%.

Industri agro juga mempunyai peranan yang penting dalam kontribusi ekspor industri pengolahan non-migas. Pada periode Januari-Agustus 2020 total nilai ekspor industri agro mencapai 29,27 milyar USD atau 35,36% terhadap ekspor industri pengolahan non-migas sebesar 82,76 milyar USD. 

Sedangkan nilai impor industri agro pada periode Januari-Agustus 2020 mencapai 9,87 milyar USD atau 13% terhadap impor industri pengolahan non-migas sebesar 75,97 milyar USD. Nilai impor tersebut lebih dari 70% merupakan impor bahan baku dan bahan penolong untuk memenuhi kebutuhan produksi industri agro dalam negeri.

Investasi PMA dan PMDN di bidang industri pengolahan non-migas pada periode Januari-Juni 2020 mencapai Rp. 127,18 Triliun. Kontribusi industri agro sebesar Rp. 36,95 Triliun atau berkontribusi sebesar 29,05% dari total investasi industri pengolahan non-migas. Jenis industri yang berkontribusi paling besar adalah industri makanan dan minuman sebesar Rp. 29,5 Triliun, diikuti oleh industri kertas sebesar Rp. 5,31 Triliun.

Peluang pengembangan industri agro cukup menjanjikan antara lain:

1) pasar domestik yang besar; 

2) sumber daya pertanian yang berlimpah sebagai sumber bahan baku industri agro dalam negeri; 

3) perubahan pola konsumsi konsumen yang cenderung beralih ke makanan kemasan modern; 

4) munculnya pemain-pemain industri agro nasional yang sudah mampu bersaing di tingkat global.

Sedangkan, permasalahan utama yang masih dihadapi dalam pengembangan industri agro antara lain: 

1) kekurangan bahan baku dan penolong, dimana sebagian besar masih dipenuhi melalui impor; 

2) masuknya produk-produk impor yang lebih kompetitif baik dari segi harga, kualitas, maupun delivery time; 

3) industri agro sangat terfragmentasi, dimana efisiensi rantai nilai belum optimal; 

4) penerapan teknologi terbatas menyebabkan produktivitas rendah terutama di sektor hulu; 

5) infrastruktur cold-chain belum tersedia secara maksimal; 

6) dan meningkatnya masalah keamanan pangan karena penerapan GMP, HACCP dan Standard belum optimal.

Sehubungan dengan peluang dan permasalahan industri agro nasional, maka kebijakan pemerintah dalam pembangunan industri agro adalah menjadikan Indonesia menjadi pemain terkemuka di pasar regional dengan strategi utama melalui peningkatan ekspor industri agro dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal.

Adapun langkah-langkah dalam peningkatan ekspor adalah:

1. penguatan kemampuan industri agro secara menyeluruh dengan fokus pada perbaikan sektor hulu pertanian;

2. familiarisasi sektor pertanian dan industri agro dengan teknologi Industrial Revolution 4.0 (IR 4.0).

3. meningkatkan efisiensi value-chain dengan membangun jaringan cold-chain yang lebih baik;

4. Meningkatkan produksi industri agro modern dengan inovasi produk didukung dengan insentif super deduction tax untuk research and development;

5. memperkuat daya saing produk industri agro dari segi kualitas, harga, dan kemampuan delivery untuk memenuhi pasar ASEAN dan global;

6. meningkatkan kemampuan SDM, teknis dan teknologi industri agro guna memperkuat kemampuan produksi nasional di pasar global.

Dalam pengembangan industri agro, untuk tujuan ekspor, Kementerian Perindustrian mendorong penggunaan teknologi IR 4.0 baik di level hulu (pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan), pengolahan, perdagangan, dan logistik maupun penyimpanan. 

Selain itu, Kementerian Perindustrian juga mendorong pengembangan SDM Industri Agro difokuskan kepada peningkatan keterampilan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan teknologi industri 4.0. salah satu inisiasi yang telah dilakukan adalah Pelatihan Manager Transformasi Industri 4.0 bidang industri agro.

Implementasi IR 4.0 dapat menjadi game changer untuk pertumbuhan ekonomi nasional, dimana diharapkan melalui pemanfaatan IR 4.0 dapat membangkitkan kembali sektor produksi, meraih kembali posisi nett ekspor, dan meningkatkan investasi untuk membangun ekonomi yang kokoh.

Terdapat lima teknologi yang akan mendukung penerapan IR 4.0 artificial intelligence, advanced robotic, Internet of Things (IoT), 3D Printing, dan Augmented Reality/Virtual Reality. Teknologi tersebut dapat diterapkan pada sektor hulu seperti teknologi Braintree drones menggunakan kamera untuk mendeteksi infeksi hama dan sasaran pestisida yang tepat. Pada sektor produksi dapat menggunakan teknologi Tomra’s advanced automated sorting machines yang mampu memeriksa setiap produk per jam, meningkatkan yield, produktivitas, dan konsistensi kualitas. Dalam perdagangan teknologi Trax’s IoT Suite memungkinan retailer merespon secara cepat terhadap permasalahan di outlet melalui kamera. Di bidang logistik dapat digunakan teknologi remote container management system yang memberi data secara langsung, lokasi, suhu dan kondisi catu daya. Sedangkan di dalam penyimpanan termasuk cold chain dapat digunakan teknologi yang memungkinan memonitor secara langsung sehingga kualitas operasional dapat terjaga.

Salah satu yang menjadi program pemulihan ekonomi nasional Kementerian perindustrian dalam kondisi VUCA adalah program pembangunan industri subtitusi impor di sektor industri agro dengan target nilai impor menurun sebesar 35% pada tahun 2022. Langkah strategis tersebut dilakukan melalui pembangunan industri subtitusi impor dan peningkatan utilisasi produksi pada industri agro.

Pada tahun 2020-2022 sektor industri agro yang akan didorong penurunan impor nya adalah industri pengolahan susu, industri pengolahan buah, industri raw sugar, dan industri kertas sebesar 20,54% atau senilai Rp. 32.862,35 Milyar dan penambahan produksi untuk keempat jenis produksi tersebut sebesar Rp. 120.019,81 Milyar atau 35,29% dibandingkan tahun 2019.

Langkah selanjutnya adalah mendorong adanya investasi sub sektor industri agro meliputi industri makanan, hasil laut dan perikanan, industri minuman, tembakau dan bahan penyegar, serta industri hasil hutan dan perkebunan, dengan total 25 proyek dengan total investasi sebesar 30 Triliun Rupiah. 

Guna mewujudkan program pembangunan industri subtitusi impor, instrument yang digunakan adalah 

1) larangan terbatas, 

2) pemberlakuan pre-shipment inspection, 

3) pengaturan entry-point pelabuhan untuk komoditi tertentu diarahkan ke luar pulau Jawa, 

4) pembenahan LS-Pro, 

5) mengembalikan dari post-border ke border, 

6) menaikan implementasi trade remedies, 

7) menaikkan tarif Most Favoured Nation (MFN), 

8) SNI Wajib, dan 

9) penerapan P3DN secara tegas dan konsisten.

Penguatan struktur industri merupakan strategi yang harus diambil mengingat pasar Indonesia dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa adalah sesuatu yang sudah pasti dan harus dipenuhi kebutuhannya. Untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut dibutuhkan koordinasi dan sinergi baik dengan kementerian/lembaga terkait, sektor hulu agro, penyedia teknologi, pelaku usaha industri, dan akademisi/perguruan tinggi.