KORIDOR "MADUMA" PACU KLASTER INDUSTRI HILIR KELAPA SAWIT

Program Koridor Ekonomi ditandai dengan prinsip bahwa pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) di suatu wilayah harus digunakan secara maksimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah penghasilnya. Dalam konteks koridor ekonomi itu, Kementerian Perindustrian tahun 2009 telah merancang klaster industri berbasis agro dan oleokimia, yaitu tiga klaster industri yang akan dibangun sebagai bagian dari koridor tersebut yaitu Sei Mangkei-Kuala Tanjung (Sumatera Utara), kawasan industri Dumai (Riau) dan Maloy (Kalimantan Timur) atau diistilahkan dalam penulisan ini disebut Koridor ”MADUMA” (MAngkei – DUmai – MAloy), atau dalam bahasa Batak kata ”MADUMA” bermakna kemakmuran. Semoga makna itu menjadikan ”MADUMA” yang produktif dan memacu kemakmuran industri hilir turunan sawit.

Pacu bangun ”KLASTER” mengisyaratkan perlunya upaya lebih dan cepat yang harus dilakukan peran-peran berkompeten untuk melakukan percepatan pembangunan Klaster Industri Hilir Sawit. Pemacu upaya lebih dimaksud dapat dilakukan dengan pen-dekatan pendalaman unsur-unsur dari bangun ”KLASTER”, yakni ”KLASTER” me-ngandung penumbuhan dan penguatan unsur: Konsentrasi, Lokasi, Afiliasi, Spesialisasi, Transaksi, Elaborasi dan Reputasi atau disingkat dengan ”KLASTER”.

  1. Konsentrasi, perlu peningkatan kerjasama antara pemangku kepentingan (Stake holders) baik individu, perusahaan, lembaga maupun instansi agar terbangun konsentrasi dan konektivitas dengan baik. Segala kebijakan, program dan aksi hendaknya dapat terkonsentrasi dalam keterpaduan perencanaan Plan, Do, Check dan Action menuju suatu goal ”Percepatan Pembangunan Klaster Industri Hilir Sawit“.
  2. Lokasi, lokasi yang dipilih tentunya mempunyai pertimbangan yang matang, sebagai pilihan membangun wilayah produktif. Sehingga lokasi dimaksud sebagai satu komitmen tak terlepas dari konsekuensi dari: (1) membangun sarana prasarana, jalan, pelabuhan, listrik dan jaringan lainnya (2) membangun kepercayaan dan meningkat-kan partisipasi masyarakat setempat dan (3) membangun kelembagaan..
  3. Afiliasi, perlu membangun kedekatan hubungan dalam bentuk-betuk afiliasi yang mempunyai jalur mengisi aktivitas di lokasi, baik peningkatan kemampuan SDM maupun aktivitas ekonomi dalam meningkatkan mobilitas barang dan jasa, orang dari satu daerah ke daerah lain. Memacu pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri nasional untuk lebih baik serta meningkatkan usaha yang sudah ada dan membangun daya tarik investor untuk masuk di wilayah tersebut.
  4. Spesialisasi, sistem perekonomian modern punya ciri berkembangnya teknologi dan spesialisasi, untuk itu spesialisasi para  pemangku kepentingan agar dapat termotivasi kreativitas pada proses produksi dan membuat produk baru yang unik kompetitif sesuai spesialisasi jalur yang dipilih.
  5. Transaksi, unsur mengelola tumbuhnya transaksi yang dapat menumbuhkan persetujuan proyek pembangunan klaster, yaitu melalui memumpuk aksi transaksi yang punya daya tarik dan peningkatan kepercayaan guna menumbuhkan suburnya transaksi dengan investor dan atau jaminan pembeli/pasar dalam dan luar negeri.
  6. Elaborasi, unsur elaborasi dimaksudkan untuk penggarapan secara tekun dan cermat terhadap tahapan ke depan pembangunan klaster itu. Terkait dengan kondisi yang ada, apakah perlu dilakukan upaya revitalisasi, restrukturisasi atau upaya perluasan (ekspansi)?. Upaya elaborasi ini penting untuk menentukan langkah-langkah tindak lanjut untuk percepatan pembangunan klaster dimaksud. Sehingga upaya pemantauan dan evaluasi perkembangan klaster perlu ditingkatkan agar ketersediaan bahan analisa dalam proses elaborasi didukung dengan data yang up to date.
  7. Reputasi, menjunjung reputasi dalam menggemakan keberhasilan dari tugas dan tanggungjawab peran-peran terlibat ditingkatkan secara terbuka, agar masing-masing peran hendaknya terpacu terus meningkatkan kualitas hasil kinerja dan  keterpaduan pelaksanaan program kerjasama pengembangan klaster industri dimaksud.


Harapan agar klaster industri turunan sawit dapat memacu menumbuhkan industri dengan produk-produk baru.  Jalur “F4” terbuka luas yaitu  (1) Food Product, jalur produk makanan; (2) Fats Product, jalur produk lemak; Fill Product,  jalur prosfektif bahan pengisi untuk industri dan  (4) Fuel Product jalur bahan bakar yang dapat diperbaharui.  Semoga koridor ”MADUMA” menjadi pioner klaster industri nasional yang mampu memberikan ”madu” bagi masyarakat Indonesia. Semoga! (Hasan Fauzy, Fungsional Perencana Madya Ditjen.Agro).