ID EN
event_note 04-Aug-2011 04:25 | folder_open Industri Pulp Kertas | remove_red_eye 1241

Indonesia Berpotensi Kurangi Emisi Karbon


Indonesia Berpotensi Kurangi Emisi Karbon

JAKARTA (IFT) – Indonesia berpeluang mengurangi emisi karbon karena masih banyaknya kawasan konservasi hutan serta dorongan pemerintah kepada pelaku usaha untuk menekan deforestasi dan degradasi hutan, kata eksekutif Carbon Conservation. Pengurangan pemakaian bahan bakar minyak ke energi baru dan terbarukan juga berpengaruh besar terhadap penurunan emisi karbon.

Dorjee Sun, CEO Carbon Conservation, lembaga non-profit bidang kredit karbon deforestasi Asia-Australia yang berbasis di Singapura, mengatakan pihaknya pernah membantu satu perusahaan di Kalimantan untuk mengurangi emisi karbon. Namun, dia tak bersedia menyebutkan identitas perusahaan tersebut.

Perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan dan agribisnis itu bisa mengurangi karbon sebanyak 70 ribu-80 ribu ton karbon per tahun. Mereka mengganti penggunaan bahan bakar diesel untuk pembangkit berkapasitas 9 megawatt menjadi sepenuhnya berbahan bakar biomassa,  yakni 80% ampas kayu dan 20% kelapa sawit.

“Dengan harga karbon di pasar internasional sekitar 13 euro per ton, perusahaan tersebut berpotensi meraih dana sebesar 1 juta euro per tahun,” ujar Sun di Jakarta, Kamis.

Menurut laporan Indeks Kinerja Perubahan Iklim yang diterbitkan oleh German Watch dan Climate Action Network (CAN) Europe seperti dikutip Departemen Riset IFT, peringkat Indonesia berdasarkan tren emisi, tingkat emisi dan kebijakan iklim, makin baik. Jika pada 2010 berada pada peringkat 23 berdasarkan tiga kriteria tersebut, tahun ini peringkat emisi karbon Indonesia menjadi yang ke-21.

Sebagai negara yang digolongkan sebagai negara industri baru, Indonesia menduduki peringkat keempat terbaik setelah Brazil, India, Meksiko, dan Thailand.

German Watch meranking negara berdasarkan tren emisi, tingkat emisi, dan kebijakan iklim yang melibatkan bantuan hampir 200 ahli energi dan kebijakan iklim. Untuk tren emisi dengan indikator dari sektor energi, transportasi, perumahan, industri, dan perbandingan target penampilan emisi karbon. Sedangkan tingkat emisi dilihat dari level karbondiosida per unit energi utama, dan penggunaan energi per kapita, sementara kebijakan iklim dilihat secara internasional dan nasional.

Penilaian berdasarkan kriteria yang distandarkan, indeks dievaluasi dan dibandingkan dari penampilan usaha-usaha perlindungan iklim dari 57 negara yang bertanggung jawab terhadap 90% emisi karbon di dunia.

Dorjee Sun mendorong perusahaan-perusahaan  di Indonesia untuk memanfaatkan potensi kredit karbon. Selain untuk mengurangi emisi dan menghemat biaya perusahaan, perusahaan yang berhasil mengurangi emisi karbon nantinya berpotensi meraih banyak dana dari negara-negara investor.

Dia mencontohkan Parlemen Australia saat ini tengah membahas peraturan tentang pajak karbon. Pajak tersebut akan diberikan kepada negara-negara yang berhasil mengurangi emisi karbon.

Sun menilai konversi ke sumber energi terbarukan akan menghemat perusahaan, karena biayanya lebih murah dibandingkan penggunaan bahan bakar diesel yang harganya mahal dan pasokannya pun tidak pasti. Dia mencontohkan investasi energi biomassa sekitar US$ 18 juta dan akan balik modal pada tahun ke lima.

Hendra Gunawan, Managing Director Corporate Affairs & Communications Asia Pulp and Paper, anak usaha Grup Sinarmas, menyatakan upaya pengurangan emisi karbon ini menjadi keharusan bagi setiap perusahaan. Pengurangan emisi karbon bukan untuk menambah beban (biaya) perusahaan, melainkan berpotensi meningkatkan keuntungan.

“Dengan konservasi areal hutan perusahaan akan memperoleh keuntungan dalam jangka panjang, karena hanya membutuhkan waktu 5-6 tahun untuk menunggu masa pertumbuhan pohon. Ini Iebih cepat daripada perusahaan kertas di luar negeri yang membutuhkan waktu sekitar 60-80 tahun untuk menunggu pertumbuhan pohon yang ditanamnya,” katanya.

Luluk Sumiarso, Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  menargetkan penurunan emisi karbon dari sektor energi sebesar 6% atau setara 38 juta ton dari total target pengurangan emisi nasional sebesar 26% pada 2020. Saat ini total emisi karbon dari sektor energi mencapai 315 juta ton karbon, masih rendah dari emisi karbon akibat pembukaan hutan dan lahan gambut yang mencapai 1,23 miliar ton karbon.

“Bila pemerintah tidak berupaya untuk mengurangi emisi karbon, jumlah karbon akan semakin meningkat dan menambah efek gas rumah kaca. Tiap tahun terjadi peningkatan emisi karbon sekitar 7% dari energi fosil, khususnya bahan bakar minyak,” ujarnya.

Sumber : http://www.indonesiafinancetoday.com/read/7003/Indonesia-Berpotensi-Kurangi-Emisi-Karbon Tanggal 4 Agustus 2011