ID EN
event_note 21-Mar-2011 09:29 | folder_open Industri Kopi | remove_red_eye 1242

Teh dan Kopi akan Didorong Jadi Komoditas Ekspor Unggulan


Jakarta - Kementerian Perindustrian berencana menjadikan teh dan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan di sektor industri agro. Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemerintah tengah merancang upaya untuk mengintensifkan produksi perkebunan teh dan kopi.

"Kalau jumlah produksi kita telah meningkat dan memiliki prospek untuk pengolahan, akan kita masukkan dalam peta rancangan industri agro yang sudah ada. Kedua komditas itu akan mendapat perlakuan yang sama dengan CPO, kakao, dan karet," kata Menteri Perindustrian MS Hdiayat, seusai jamuan malam bersama sejumlah duta besar asal Afrika di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hidayat mengaku, telah bertemu dengan Dewan Teh Indonesia dan perwakilan komoditas ko-pi Indonesiadan mendengar pemaparan mereka tentang industri kopi dan teh.

Hingga saat ini, lanjut Hidayat, produksi teh Indonesia sekitar 140 ribu ton. Seikitar 60% diantaranya diekspor yang nilainya mencapai USS 170 juta per tahun. Tujuan ekspor utama komoditas tersebut adalah Korea, Jepang dan Amerika Serikat. "Indonesia merupakan eksportir teh" nomor 6 di dunia," terangnya

Dia menambahkan, dalam pertemuan dengannya, Dewan Teh Indonesia juga menyatakan untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional. Namun banyak kendala yang dihadapi terutama lahan perkebunan yang terus menyempit

"Tiap tahun, setidaknya ada pengurangan lahan sekitar 3 ribu hektar karena pengalihan tanaman lain atau digunakan untuk perumahan. Mereka minta itu dihentikan. Nanti saya akan lakukan langkah-langkahuntuk itu," kata Hidayat.

Dirjen FAO

Dalam kesempatan itu, Hidayat juga menyatakan dukungan kepada Indroyono Soesilo sebagai Direktur Jendral Food and Agriculture Organization (FAO). Hidayat juga menyampaikan dukungan Sekretaris Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) terhadap Indroyono. Dukungan Kemen-prin, lanjut Hidayat, sejalan dengan program kerja kementrian yang akan mendorong pertumbuhan sektor agro industri.

Selain itu, Indroyono merupakan orang pertama di Indonesia yang menjadi calon Dirjen FAO dan merupakan satu-satunya kandidat dari Asia Pasifik. Saingannya dari Spanyol, Brazil, Irak, Iran, dan Austria.

"Kalau terpilih, saya yakin bisa, tentu akan menjadi nilai positif bagi reputasi Indonesia FAO merupakan organisasi resmi dunia yang men-gatur soal pangan dan agrikultur. Selain itu, akan mendukung posisi tawar Indonesia dan dalam mendorong upaya ketahanan pangan," kata Hidayat

Hal senada juga di-ungkapkan Staf Khusus Menperin John A Prasetyo. Menurutnya jika Indroyono menjadi Dirjen FAO, maka dapat meningkatkan kepercayaan investor atas Indonesia, terutama investasi di sektor agrobisnis.

Sementara itu, Indroyono menuturkan, ada empat isu ketahanan pangan yang menjadi perhatian dan harus diatasi bersama oleh semua bangsa. Yakni, ketersediaan, akses, keterjangkauan, dan keamanan pangan. Termasuk, seleksi atas produksi, energi, dan teknologi yang digunakan. Mengintegrasikan sumber-sumber pangan, menekan angka kemiskinan, serta menetapkan standar dan kualifikasi keamanan pangan.

Indroyono menargetkan pertumbuhan investasi publik untuk sektor pangan hingga 10% dan menaikkan produksi pangan hingga 6% pada 2015 secara global.

"Kila dihadapkan dengan isu pemanasan global, kelaparan, dan mal nutrisi yang harus diatasi. Saya akan mendorong kesepakatan untuk standar keamanan pangan global. Sehingga tidak lagi dijadikan hambatan non-tarif," imbuh Indroyono.

Untuk terpilih sebagai Dirjen FAO, Indroyono harus melewati beberapa tahap pemilihan untuk memperebutkan suara 191 negara anggota dan Uni Eropa. Turut hadir dalam jamuan tersebut, diantaranya Duta Besar Mesir Ahmed El Ke-waisny dan Duta Besar Ibrahim Bufhro Muhammad, jamuan tersebut ditujukan untuk mengumpulkan dukungan negara-negara di kawasan Afrika atas Indroyono.

(Sumber: bataviase.co.id, Harian Ekonomi Neraca, 21 Maret 2011)