ID EN
event_note 18-Jun-2012 09:10 | folder_open Industri Kakao | remove_red_eye 1689

Produksi Kakao Olahan Kuartal I Capai 80 Ribu Ton


Produksi Kakao Olahan Kuartal I Capai 80 Ribu Ton

Jumat, 15 Juni 2012

Produksi kakao olahan nasional pada kuartal I 2012 mencapai 80 ribu ton, menurut asosiasi industri. Dengan demikian, produksi pada kuartal I tersebut telah mencapai 20% dari target produksi tahun ini sebesar 400 ribu ton.

"Dari pasokan 100 ribu ton kakao mentah, produsen di Indonesia mampu mengolah 80% di antaranya pada kuartal I 2012," kata Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia kepada IFT.

Tahun ini asosisasi memproyeksikan produksi kakao olahan meningkat 42,8% dibanding produksi 2011 sebesar 280 ribu ton. Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi yang dilakukan produsen pada tahun lalu dan tahun ini.

Ekspansi yang telah dilakukan produsen pada tahun lalu yakni oleh PT General Food Industries, PT Bumitangerang Mesindotama, PT Cocoa Ventures Indonesia, PT Teja Sekawan, dan PT Kakao Mas Gemilang. Selain itu, PT Gandum Mas Kencana, PT Freyabadi Indotama, dan PT Sekawan Karsa Mulia juga memperluas produksi pada 2011. Total investasi kedelapan produsen tersebut mencapai US$ 45 juta.

Peningkatan produksi pada tahun ini juga didukung kapasitas produksi kakao mentah yang memadai. "Tahun ini produksi kakao mentah mencapai 500 ribu ton, meningkat dibanding 2011 yang mencapai 460 ribu ton," ujar Sindra.

Dia menambahkan pertumbuhan produksi kakao olahan dalam dua tahun terakhir, terjadi sejak pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. "Peraturan tersebut mendorong produsen dalam negeri untuk berekspansi, dan produsen asing pun berminat investasi di Indonesia untuk menghindari bea keluar," kata Sindra.

PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), emiten kakao olahan, menargetkan penjualan pada 2012 mencapai Rp 1,3 triliun, atau sama dengan penjualan pada 2011. Stagnansi penjualan terjadi karena pasar kakao olahan dunia yang diperkirakan lesu pada tahun ini.

"Lesunya pasar kakao olahan dunia dipengaruhi krisis keuangan yang terjadi di Eropa sejak tahun lalu," kata Hasiem Willy, Sekretaris Perusahaan Davomas. Akibat krisis, permintaan produk perseroan dari Eropa menurun tahun lalu.

Hasiem menuturkan dengan menurunnya permintaan dari Eropa yang selama ini menjadi pasar utama produk perseroan, penjualan Davomas pada 2011 menurun 19,2% dibanding penjualan pada 2010 yang mencapai Rp 1,61 triliun.

Untuk menjaga penjualan pada tahun ini agar tidak turun, Davomas saat ini tengah menjajaki pasar alternatif di luar Eropa, seperti Jepang, China, dan Korea Selatan. "Peralihan pasar ke China sudah mulai dilakukan sejak akhir tahun lalu," kata Hasiem.

Harga saham Davomas pada penutupan perdagangan Kamis stagnan di level Rp 50 dibanding sehari sebelumnya.

 

BY DYAH YOSSIE WIRANTI & HADI SAKSONO

(Sumber: http://www.indonesiafinancetoday.com)