ID EN
event_note 09-May-2019 09:47 | account_circle deby S | folder_open Industri CPO | remove_red_eye 93

Duet Maut Sentimen Ini Bikin Industri CPO Panas Dingin


Duet Maut Sentimen Ini Bikin Industri CPO Panas Dingin
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ditutup melemah seiring prospek stok sawit yang masih akan tinggi hingga akhir tahun 2019.

Pada penutupan perdagangan Rabu (8/5/2019), harga CPO kontrak pengiriman Juli di bursa Malaysia Derivatives Exchange anjlok hingga 1,03% ke level MYR 2.019/ton, setelah sehari sebelumnya meroket 2,82%.

Dengan begitu sejak awal tahun, harga CPO sudah anjlok hampir 5%, tepatnya 4,76%.
Beberapa pelaku industri sawit mengatakan bahwa mereka memprediksi stok di Malaysia masih akan tinggi tahun ini, berkisar antara 2,7-3,4 juta ton, mengutip Reuters, Rabu (8/5/2019).

Hal itu disebabkan oleh produktivitas perkebunan sawit yang meningkat akibat cuaca yang mendukung tahun ini. Selain itu, pohon sawit muda yang ditanam beberapa tahun lalu sudah mulai masuk masa dewasa yang siap dipanen.


"Stok tampaknya akan meningkat, kecuali kamu bisa membuat ekspor melonjak. Tapi saya kira stok tidak akan berkurang, bahkan kami melihat akan mulai naik di bulan Mei ke depan," ujar pelaku pasar yang berbasis di Kuala Lumpur, seperti yang dilansir dari Reuters.

Tanda-tandanya pun sudah dapat dilihat. Pada bulan Januari dan Februari tahun ini (2019), produksi CPO Malaysia masing-masing mencapai 1,73 dan 1,54 juta ton. Jumlah tersebut merupakan produksi bulan Januari dan Februari yang paling tinggi sejak tahun 2000.

Menurut peneliti perkebunan CIMB International, Ivy Ng, peningkatan produksi sawit sejak disebabkan oleh cuaca yang bagus sejak dua tahun terakhir dan ekspansi perkebunan sawit di Malaysia. 

Dampaknya, sejak tahun lalu produksi sawit kian membuncah. Parahnya, itu terjadi saat perlambatan ekonomi sedang terjadi, yang menurunkan permintaan sawit.

Alhasil pada akhir tahun 2018, stok minyak sawit di Malaysia mencapai 3,21 juta ton atau tertinggi dalam 19 tahun terakhir.

Tahun ini pun berpotensi mengalami hal serupa. Ancaman perang dagang jilid II sudah meningkat dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump di Twitter beberapa waktu lalu.

Trump mengatakan akan mulai memberlakukan tarif baru, sebesar 25%, bagi produk-produk asal China yang senilai US$ 200 miliar. Dirinya juga terang-terangan berencana memberlakukan bea impor 25% terhadap produk China senilai US$ 325 miliar yang sebelumnya bebas bea masuk.

Ancaman itu datang setelah perundingan delegasi AS dengan China selesai dilakukan di Beijing pekan lalu.

Apabila benar Trump merealisasi rencana tersebut, maka China kemungkinan besar akan melakukan hal serupa. Skenario perang dagang, seperti yang pernah terjadi di tahun 2018 bisa terulang, dengan intensitas yang lebih parah.

Kala itu terjadi, aktivitas industri akan melambat. Permintaan komoditas, termasuk sawit yang sebagai bahan baku industri pun juga bisa lesu.

Sebagai informasi, harga kontrak minyak sawit di Malaysia bisa menjadi salah satu proxy untuk menakar harga jual sawit Indonesia. Sebab, perdagangan kontrak CPO di kawasan Asia Tenggara yang paling aktif ada di Malaysia Derivatives Exchange.