ID EN
event_note 27-Mar-2019 10:44 | account_circle Ranny M | folder_open Lain-lain | remove_red_eye 92

Sekarang Saatnya Memperkuat Industri Substitusi Impor


Sekarang Saatnya Memperkuat Industri Substitusi Impor
Sejumlah kalangan meng­ingatkan agar pemerintah lebih tanggap dan antisipatif dalam menghadapi perkem­bangan ekonomi global yang sangat pesat dan dinamis. Sebab, tren pelemahan per­tumbuhan perdagangan dan ekonomi du­nia bagaimana pun juga pasti akan segera berakhir.

Oleh karena itu, Indonesia jangan hanya menunggu hingga ekonomi dunia memba­ik. Pemerintah harus mulai sekarang juga merealisasikan perbaikan dan penguatan struktur industri nasional sebelum pasar bergerak, karena akan lebih mudah mem­bangun apabila masih masa transisi. De­ngan begitu, Indonesia sudah siap ketika pertumbuhan ekonomi global mulai pulih.

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakar­ta, YS Susilo, mengemukakan pertumbuhan pasar dunia pasti akan bergerak, sehingga Indonesia jangan menunggu hingga tahun depan. Pemerintahan Joko Widodo yang masih mendapatkan dukungan mayoritas suara rakyat harus mulai bergerak sekarang juga untuk memperkuat struktur industri nasional.

“Kita harus bergerak, dimulai sekarang untuk memperkuat downstream industry atau industri hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk,” ujar dia, ketika dihubungi, Selasa (26/3).

Selain itu, lanjut Susilo, sektor hulu di bahan baku juga perlu diperkuat. Saat ini, impor bahan penolong dan bahan baku ter­catat sangat tinggi, antara lain, karena juga memasukkan raw sugar dan tepung terigu ke dalam kategori bahan baku. (Lihat infografis)

“Impor golongan barang itu, terlihat be­sar karena banyak barang atau komoditas yang sebenarnya tidak perlu impor, tapi te­tap diimpor juga,” ungkap dia.

Susilo juga meminta pemerintah harus segera memulai dari sekarang memba­ngun industri pertanian nasional. Untuk itu, industri substitusi impor mesti segera dikembangkan karena memiliki sejumlah peran yang sangat strategis.

Pertama, pasarnya sudah terjamin ada di Indonesia, nggak usah susah-susah men­cari pasarnya. Makanya sekarang juga ba­ngun industri bahan penolong,” papar dia.

Kedua, menghemat devisa negara. “Ba­yangkan jika barang impor yang sangat besar itu disebar ke seluruh rakyat, maka betapa makmurnya kita. Itulah devisa kita yang berharga. Jika terus mengimpor maka hanya menguntungkan petani negara eks­portir,” jelas Susilo.

Ketiga, membuka lapangan kerja baru. Keempat, mendukung hilirisasi indus­tri yang memiliki produk bernilai tambah. Namun, untuk menopang hilirisasi itu, In­donesia harus mandiri bahan baku dan ba­han penolong terlebih dahulu. “Kalau tidak mandiri, bukan hilirisasi,” tukas dia.

Dia menilai semestinya Indonesia bisa membuat produk tekstil yang diimpor dari Jepang, seperti Zara, H&M, dan Uniqlo. Di sektor otomotif, Indonesia juga cenderung jadi tukang rakit. “Kita nggak punya industri komponen mobil, maka komponen itu ma­suk sebagai impor bahan baku dan bahan penolong,” tutur Susilo.

Ekonomi AS

Sementara itu, terkait dengan indika­si pelemahan global, pelaku pasar menilai ekonomi Amerika Serikat (AS) sebenarnya masih kuat. Apalagi, muncul kabar yang mengungkapkan Presiden Donald Trump ti­dak terbukti bekerja sama dengan Russia da­lam kampanye pemilihan presiden. Dengan demikian, Trump terhindar dari risiko pe­makzulan sehingga program presiden, ter­masuk program ekonomi akan jalan terus.

Akan tetapi, salah satu yang menjadi per­hatian pasar adalah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed). Pada Rabu (20/3), The Fed mempertahankan suku bunga di level se­mula, yakni 2,25-2,50 persen. Mayoritas pe­jabat dalam kebijakan suku bunga mempre­diksi tidak ada kenaikan bunga sama sekali tahun ini, dan sisanya memperkirakan suku bunga akan naik satu hingga dua kali.

Ketua The Fed, Jerome Powell, mengata­kan peserta Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) melihat pertumbuhan 2019 sekitar 2 persen, dengan tingkat pengangguran te­tap di bawah 4 persen, atau lebih rendah dari tingkat yang natural antara 4,5–5,0 persen.

Pelaku pasar menilai The Fed menahan tren pasar yang sebenarnya, yakni kenaikan suku bunga. Indikasinya terlihat dari tingkat pengangguran relatif rendah sekali, sehing­ga akan lebih susah mencari karyawan. Aki­batnya, permintaan tenaga kerja lebih kuat sehingga gaji cenderung naik dan memicu inflasi.

Sumber : http://www.koran-jakarta.com/sekarang-saatnya-memperkuat-industri-substitusi-impor/