ID EN
event_note 18-Mar-2019 09:06 | account_circle deby S | folder_open Industri Gula | remove_red_eye 102

Produksi Dua Pabrik Gula Baru Mengurangi Impor


Produksi Dua Pabrik Gula Baru Mengurangi Impor

JAKARTA, (PR).- Dua pabrik gula baru serta satu pabrik gula eksisting yang diperluas akan melakukan comi?ssioning (uji coba produksi) pada 2019-2020. Hal itu diharapkan dapat menambah kapasitas produksi gula serta mengurangi impor.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartaro mengatakan, Kementrian Perindustrian? aktif mendorong investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Dalam upaya memacu tumbuhnya pabrik-pabrik gula baru dan perluasan pabrik gula yang sudah eksisting, Kementrian Perindustrian telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.

“Fasilitas ini disambut baik oleh investor yang melakukan pembangunan pabrik gula baru sejak tahun 2010 dengan total investasi sampai saat ini mencapai Rp30 triliun, meliputi 12 pabrik gula baru. Dua diantaranya akan commissioning tahun 2019-2020 serta satu pabrik gula eksisting yang sudah melakukan perluasan,” ujar dia melalui siaran pers, yang diterima PR Online Minggu 17 Maret 2019.

Airlangga mengatakan,? Kementerian Perindustrian terus memacu tumbuhnya industri gula untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Pertumbuhan industri gula tersebut diharapkan dapat menurunkan ketergantungan terhadap bahan baku impor. 

"Salah satunya memasok kebutuhan produksi di industri makanan dan minuman, yang selama ini menjadi sektor manufaktur andalan bagi perekonomian nasional melalui penerimaan devisa dari ekspor," ucap dia.

Berdasarkan data trend produksi dan konsumsi gula nasional, terdapat kesenjangan antara supply dan demand sehingga kekurangan bahan baku itu terpaksa dipenuhi melalui impor. Hal itu  terutama raw sugar atau gula kristal mentah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman.

Berdasarkan data Kementrian Perindustrian,? produksi gula berbasis tebu pada tahun 2018 sebesar 2,17 juta ton. Sementara kebutuhan gula nasional mencapai 6,6 juta ton. 

Saat ini, produksi gula nasional dipasok oleh 48 pabrik gula milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan 17 pabrik gula milik swasta. “Ada 12 pabrik baru yang akan didirikan di Jawa dan luar Jawa. Semuanya akan diberikan insentif oleh pemerintah,” katanya.

Menurut Airlangga, pemerintah telah berupaya menekan volume impor. Pada tahun 2019, izin kuota impor gula industri sekitar 2,8 juta ton, turun dibanding pada tahun lalu sebanyak 3,6 juta ton. “Kuota impor dipotong lantaran masih ada stok gula impor sekitar 1 juta ton di gudang-gudang industri,” tambahnya.

Airlangga mengatakan, kebutuhan gula setiap tahunnya terus meningkat, seperti misalnya gula kristal rafinasi (GKR) atau gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi. Kebutuhan GKR angkanya naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas 7 persen per tahun.

Sepanjang 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 7,91 persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun 2018. Tahun ini, industri makanan dan minuman diproyeksi tumbuh signfikan seiring peningkatan konsumsi karena adanya momen pemilihan umum, sedangkan kinerja industri farmasi terkatrol melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Kami optimis, pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019,” ujarnya.

Dalam upaya peningkatan produksi gula, pemerintah tidak hanya tergantung pada peran pabrik gula atau off-farm, namun peran dari sisi para petani tebu atau on-farm yang pengaruhnya sangat besar. “Petani tebu diyakini bisa memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional karena hasil tebu yang berkualitas akan menghasilkan rendemen gula yang tinggi,” tuturnya.?***

( Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2019/03/18/produksi-dua-pabrik-gula-baru-mengurangi-impor )