ID EN
event_note 28-Jan-2019 10:53 | account_circle deby S | folder_open Industri Pulp Kertas | remove_red_eye 125

Industri pulp dan kertas Indonesia Masuk 10 Besar Dunia


Industri pulp dan kertas Indonesia Masuk 10 Besar Dunia

Bisnis.com, JAKARTA--Industri pulp dan kertas Tanah Air saat ini berada dalam jajaran 10 besar produsen terbesar di dunia.

Pada tahun lalu, kapasitas produksi kertas Indonesia tercatat sebesar 16 juta ton per tahun dan pulp sebesar 11 juta ton per tahun.

Pasar utama ekspor pulp dan kertas Indonesia adalah kawasan Asia, seperti China, Korea Selatan, India, Arab Saudi, dan Jepang.

Secara global, industri pulp Indonesia merupakan produsen terbesar kesepuluh sementara industri kertas menempati peringkat keenam.

Di wilayah Asia, Indonesia merupakan produsen peringkat ketiga untuk industri pulp dan dan keempat untuk industri kertas.

Industri pulp dan kertas dalam negeri diperkirakan akan terus tumbuh pada tahun ini. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) memproyeksikan industri ini tumbuh 5% pada 2019. Apalagi, peluang pasar masih terbuka dan kapasitas produksi pulp dan kertas meningkat karena ada perluasan.

“Harga juga masih bagus, apalagi tahun depan ada permintaan kertas untuk pemilu,” kata Aryan Warga Dalam, Ketua APKI belum lama ini.

Pasar dinilai sedang bertumbuh dengan baik dan permintaan dunia masih meningkat sekitar 2%. 

Walaupun memiliki potensi untuk tumbuh, industri pulp dan kertas dalam negeri masih menghadapi tantangan berupa tuduhan dumping dari berbagai negara.

“Tantangannya karena kami punya daya saing, jadi dituduh dumping terus, seperti Amerika Serikat, Australia, India, Pakistan, dan Korea Selatan,” ujarnya.

Seperti diketahui, AS dan Australia menganggap Indonesia melakukan praktik Particular Market Situation (PMS). Menurut Arya, tudingan aksi dumping pulp dan kertas asal Indonesia oleh AS disebabkan oleh kesalahan Negara Paman Sam dalam menentukan harga acuan komoditas tersebut.

Dalam kasus tersebut, AS mengacu pada harga pulp asal Malaysia yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Akibatnya, produsen Indonesia dituding memberikan subsidi atas produk ekspornya.

Pada 2017, AS menuding produk coated paper dan uncoated paper dari Indonesia dikenai subsidi sehingga harga jualnya lebih rendah.

Adapun, di Australia tudingan serupa ditujukan kepada produk A4 copy paper yang masih dalam proses negosiasi di Organisasi Dagang Internasional (World Trade Organization/WTO).

Sepanjang tahun lalu, nilai ekspor industri kertas dan barang dari kertas mencapai US$7,26 miliar atau naik 15,15% secara tahunan dari US$6,30 miliar.

Bubur kertas atau pulp menjadi komoditas industri kertas dan barang dari kertas dengan nilai ekspor terbesar, yaitu US$2,63 miliar, tumbuh 10,91% y-o-y dari US$2,37 miliar. 

Dari catatan Kementerian Perindustrian, sampai saat ini, sudah ada 84 perusahaan pulp dan kertas di Indonesia.

Produsen pulp dan kertas terbesar di Tanah Air di antaranya April Group dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper dan Sinar Mas Group yang membawahi beberapa perusahaan, seperti PT Tjiwi Kimia Tbk., PT Indah Kiat Pulp & Paper, dan PT OKI Pulp and Paper.

Sinar Mas Group, yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja, melalui linis bisnis Asia Pulp and Paper disebut sebagai produsen kertas dan bubur kertas terbesar kedua di dunia.

APP memiliki kapasitas produksi sebesar 12 juta ton per tahun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 70.000 orang dan produknya menjangkau 120 negara di 6 benua.

Adapun, Sinar Mas Group baru saja ditinggalkan oleh pendirinya, Eka Tjipta Widjaja yang tutp usia pada Sabtu (26/1/2019). 

Semasa hidupnya, mendiang berhasil mengembangkan korporasi hingga memiliki enam lini bisnis, yakni pulp dan kertas, agribisnis dan pangan, layanan keuangan, pengembang dan real estate, telekomunikasi, serta energi dan infrastruktur.

( Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/read/20190127/257/882862/industri-pulp-dan-kertas-indonesia-masuk-10-besar-dunia )