ID EN
event_note 23-Jan-2019 08:03 | account_circle deby S | folder_open Industri Makanan | remove_red_eye 105

Pengusaha Mamin Keluhkan Kualitas Gula Lokal


Jakarta – Para pengusaha makanan dan minuman (mamin) kecil dan menengah mengeluhkan kualitas gula lokal yang masih di bawah standar dan berdampak terhadap kualitas produk mereka. Kondisi ini membuat penggunaan gula impor untuk industri mamin masih sulit digantikan oleh gula lokal.

Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah Agro Suyono menjelaskan, setidaknya ada tiga alasan gula rafinasi dari impor sulit digantikan gula lokal. "Kelemahan gula lokal adalah adanya bakteri, suplainya yang tidak stabil, serta harga mahal," kata dia di Jakarta, Selasa (22/1).

Suyono mengungkapkan, adanya kandungan sampah mikro, bakteri dan kuman di gula lokal membuat produk mamin yang dihasilkan lebih cepat kedaluwarsanya. Dia mencontohkan, saat makanan diekspor, misalnya dodol, ke Timur Tengah, makanan itu akan berjamur dan lekas kedaluwarsa, karena adanya bakteri. Pasalnya, kata dia, perjalanan kapal ke Abu Dhabi saja bisa mencapai 20 hari. Kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan tersebut lebih cepat berkembang. "Sementara jika menggunakan gula impor, menurut dia, dodol bisa bertahan hingga satu tahun," ungkap dia.

Suyono menambahkan, gula impor juga selalu tersedia dari Januari sampai Desember. Sedangkan jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen yang pasokannya tidak selalu tersedia. Pengusaha, lanjut dia, juga mengeluhkan masalah harga. Suyono menyebutkan, harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp 2.000 per kilogramnya dibandingkan gula impor.

Dia menegaskan, kecenderungan menggunakan gula impor tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha anti produk dalam negeri. Menurut Suyono, pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya sudah sama dengan gula impor.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan, industri manufaktur tetap membutuhkan impor garam industri, sebab kualitas garam domestik masih belum memenuhi standar. Seketaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar sebelumnya mengatakan, kandungan natrium klorida (NaCl) pada garam lokal baru 94%-95%, padahal berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No.88/2014, kadar senyawa NaCl garam industri minimal harus mencapai 97%.

“Jangan dipaksakan semua industri harus menyerap. Kalau dipaksa, mesinnya bisa rusak, atau kalau tidak produknya tidak akan jadi,” kata Haris, belum lama ini.

Haris menjamin, industri pasti akan menyerap garam dalam negeri bila sudah sesuai dengan standar mereka. Meski, harga garam lokal lebih mahal dibanding impor.Tercatat, kebutuhan garam industri untuk tahun ini sekitar 3,8 juta ton. Tetapi Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan hanya membuka alokasi impor garam sebanyak 2,7 juta ton untuk 2019.

Untuk dapat meningkatkan penyerapan garam lokal ke industri, kata Haris, teknologi dalam memproduksi garam harus ditingkatkan, dari yang saat ini masih menggunakan cara tradisional. "Sebenarnya sudah ada investor yang tertarik untuk investasi garam, tapi masih terkendala lahan," tutur dia.

Haris menegaskan, garam sangat dibutuhkan oleh industri dalam produksinya. Dan sesuai Undang-Undang No 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, pemerintah akan menjamin ketersediaan bahan baku buat industri.

( Sumber :https://www.beritasatu.com/ekonomi/534058-pengusaha-mamin-keluhkan-kualitas-gula-lokal.html )