ID EN
event_note 22-Jan-2019 08:18 | account_circle deby S | folder_open Industri Gula | remove_red_eye 181

Lebih Pilih Gula Impor, Pengusaha Mamin Ungkap Masalah Gula Lokal


 Lebih Pilih Gula Impor, Pengusaha Mamin Ungkap Masalah Gula Lokal
 Jakarta, Gatra.com - Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman (mamin) masih sulit digantikan oleh gula lokal. Adanya bakteri pada gula lokal, suplai yang tidak teratur, dan harga lebih mahal membuat pengusaha mamin, termasuk dodol, memilih gula impor.

Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah, Agro Suyono mengatakan, pengusaha mamin kelas kecil dan menengah pun masih amat membutuhkan impor gula rafinasi bagi keberlangsugan usaha mereka. Ia menjelaskan, ada tiga alasan gula rafinasi dari impor sulit digantikan gula lokal bagi industi mamin.

“Alasan pertama, gula rafinasi itu mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri, dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan kami akan cepat kedaluwarsa,” ujar Suyono, dalam keterangan yang diterima Gatra.com, Senin (21/1)

Suyono menjelaskan, jika menggunakan gula lokal, saat makanan diekspor, misalnya dodol ke Timur Tengah, makanan akan berjamur dan lekas kedaluwarsa karena adanya bakteri tersebut. Pasalnya, perjalanan kapal ke Abu Dhabi saja bisa mencapai 20 hari. Kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan tersebut lebih cepat berkembang.

Sementara itu, jika menggunakan gula impor, dodol bisa bertahan hingga satu tahun. Hal itu dikarenakan tidak adanya molasis dalam kandungan gula.

“Alasan kedua karena gula rafinasi selalu tersedia dari Januari sampai Desember. Sedangkan jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen yang pasokannya tidak selalu tersedia, sebutnya.

Pengusaha juga mengeluhkan masalah harga. Suyono menyebutkan, harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp2.000 per kilogramnya dibandingkan gula rafinasi. Jadilah pengusaha lebih memilih gula rafinasi karena lebih murah.

Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, ditegaskannya, tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha anti produk dalam negeri. Menurut Suyono, pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya sudah sama dengan gula rafinasi. industri, terutama UMKM dihadapkan pada dilema harga gula impor yang lebih murah dan lebih berkualitas.

Sementara itu, peneliti muda Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman mengungkapkan, menekan tingginya angka impor gula bukan pekerjaan yang mudah. Ini mengingat konsumsi dalam negeri sangatlah tinggi. Pemangkasan impor gula hanya dapat dilakukan apabila produksi gula dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional dengan kualitas baik.

Ia berpendapat, jika produksi gula dalam negeri mampu memenuhi atau setidaknya mendekati angka kebutuhan, kebijakan impor gula dipastikan dapat ditekan. Namun untuk saat ini, jika impor gula terus ditekan, imbasnya akan membuat harga gula di pasaran melambung.

"Pada akhirnya, konsumen dan unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan menanggung kerugian," kata Assyifa.

Banyak kalangan juga mengkritisi, dengan usia mesin lebih dari 100 tahun, akan muskil mungkin pabrik gula BUMN bisa menghasilkan gula berkualitas sesuai kebutuhan industri mamin.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan menyebut beberapa industri memang membutuhkan impor gula sebagai bahan baku untuk produksinya. Contohnya industri mamin yang memerlukan gula dengan ICUMSA rendah. Juga industri kesehatan yang membutuhkan gula khusus.

Khusus untuk industri mamin, ia mengakui, keperluan memakai gula impor lebih dikarenakan harganya yang lebih terjangkau. Di samping itu, gula impor yang memiliki tingkat ICUMSA di kisaran 45 membuat tampilan makanan dan minuman jauh lebih baik.

“Kalau ICUMSA gula rafinasi impor itu sekitar 45. Kalau gula lokal setelah diolah itu masih sekitar 300 ICUMSA. Raw sugar malah ICUMSA-nya bisa sampai 1.200,” jelasnya.

Dalam undang-undang pun, penggunaan gula impor untuk industri mamin telah diamanatkan. Hal inilah yang membuat penggunaan gula impor untuk makanan maupun minuman sah-sah saja.

Hanya saja bukan berarti gula lokal tidak mampu menghasilkan makanan maupun minuman yang kualitasnya setara dengan produk yang memakai gula impor. Penggunaan gula impor tetap kepada pertimbangan harga dan tingkat ICUMSA yang lebih rendah.

“Karena pernah dulu waktu 2009, ketika harga gula dunia sedang naik, industri mamin akhirnya memakai gula lokal. Bisa itu,” ungkap Agus.

Namun khusus untuk industri kesehatan, penggunaan gula khusus dari impor memang tidak bisa tergantikan. Dikarenakan beberapa komposisinya yang tidak bisa didapati pada gula lokal biasa.

( Sumber : https://www.gatra.com/rubrik/ekonomi/382663-Lebih-Pilih-Gula-Impor-Pengusaha-Mamin-Ungkap-Masalah-Gula-Lokal )