ID EN
event_note 16-Jan-2019 08:04 | account_circle deby S | folder_open Industri Makanan | remove_red_eye 153

Kemenperin- kebutuhan gula naik,kinerja industri makanan & minuman tumbuh 9 Persen pertahun


Kemenperin- kebutuhan gula naik,kinerja industri makanan & minuman tumbuh 9 Persen pertahun
"Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)"

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman naik sebesar 9-10 persen per tahun, serta industri farmasi naik sebesar 5-6 persen per tahun. 

Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas tujuh persen per tahun.

"Pada periode Januari-September 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 9,74 persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun 2018. Kami pun memproyeksi pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019," kata Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan kinerja positif industri makanan dan minuman di tahun politik ini karena adanya kegiatan Pileg dan Pilpres serentak pada 17 April 2019. Momentum ini dinilai bakal membuat lonjakan terhadap konsumsi produk makanan dan minuman.

"Sementara itu, kami perkirakan pertumbuhan industri farmasi mampu menembus angka 7-10 persen pada 2019. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," paparnya.

Program JKN itu masih menjadi magnet bagi investor untuk ekspansi, karena dapat meningkatkan permintaan di pasar domestik.

Untuk itu, dalam menjaga keberlanjutan produktivitas di sektor industri, Kemenperin terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku.

Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi perekonomian nasional, di antaranya melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

"Salah satunya adalah kebutuhan GKR. Pada tahun 2018, realisasi penyaluran GKR untuk industri makanan dan minuman, serta farmasi sebesar 3,0 juta ton, yang dipenuhi oleh pabrik GKR yang mengolah gula mentah (raw sugar/RS) impor sebesar 3,2 jt ton," ungkap Sigit.

Menurutnya, rekomendasi impor yang dikeluarkan Kemenperin berupa impor gula mentah diberikan kepada industri yang mengolah gula mentah menjadi GKR untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman, serta farmasi.

Lebih lanjut, impor gula mentah yang akan diolah menjadi GKR dalam rangka memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman hanya 2,8 juta ton pada tahun 2019, turun sekitar 12,5 persen dibandingkan tahun 2018 walaupun pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun ini diprediksi tetap naik di atas 8 persen.

"Impor gula mentah selama ini didatangkan dari India, Thailand, Australia, dan Brasil," kata Sigit.

Ia menambahkan pemerintah berupaya menekan volume impor dengan menggenjot investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Saat ini, sudah ada tiga investor yang menyatakan berkomitmen berinvestasi di sektor ini.

“Pabrik gula terintegrasi yang selesai baru satu dari tiga yang saat ini sedang melakukan investasi," ujar Sigit.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, keputusan impor gula sudah berdasarkan analisa bersama. Hasilnya, jumlah produksi gula nasional tidak mencukupi untuk konsumsi dan bahkan, industri.

Enggar mengatakan, permasalahan pasokan yang kurang juga diakibatkan banyaknya pabrik pemrosesan tebu menjadi gula yang tutup. Untuk menghindari harga pasaran melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) gula sebesar Rp 12.500 per kilogram, pemerintah memutuskan impor. "Sebab, kalau suplai berkurang, pasti harga akan naik," katanya pada konferensi pers di Gedung Kemendag pada Kamis (10/1). 

Penyebab lain yang disebutkan Enggar adalah belum terpenuhinya kualitas produksi gula dalam negeri untuk kebutuhan industri. Kadar International Commision for Unifom Methods of Sugar Analysis/ ICUMSA gula petani lokal terbilang tinggi, sehingga warnanya tidak putih. Kondisi ini tidak sesuai dengan kriteria industri mamin yang membutuhkan gula dengan ICUMSA rendah. 

Pada 2018, pemerintah menetapkan keputusan impor gula mentah 3,6 juta ton untuk kebutuhan industri rafinasi. Selanjutnya, pemerintah kembali memutuskan impor gula tambahan dengan tujuan memenuhi kebutuhan konsumsi pada periode Januari hingga Mei 2019 sebanyak 1,1 juta ton.
( Sumber : https://www.kaskus.co.id/thread/5c3e03f76df2317d75577cc1/kemenperin-kebutuhan-gula-naikkinerja-industri-makanan-amp-minuman-tumbuh-9-pertahun )