ID EN
event_note 08-Jan-2019 08:01 | account_circle deby S | folder_open Lain-lain | remove_red_eye 108

Momentum Pemilu Diprediksi Kerek Pertumbuhan Industri Agro 7,10 Persen


Momentum Pemilu Diprediksi Kerek Pertumbuhan Industri Agro 7,10 Persen

Momentum pemilihan umum (Pemilu) diharapkan turut memberi angin segar bagi pertumbuhan sektor industri agro pada tahun ini. Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan sektor industri agro pada 2019 mencapai 7,10%, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu sekitar 6,93% seiring dengan potensi kenaikan permintaan pasar domestik, terutama produk makanan dan minuman pada masa pemilu.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan pada tahun politik ini, ada beberapa sektor berpeluang mencetak pertumbuhan, di antaranya adalah industri makanan dan minuman. Pada kuartal III 2018, industri agro mencatatkan pertumbuhan 7,23% secara tahunan.

“Realisasi pertumbuhan industri agro 2019 diharapkan lebih besar dari target 7,10%. Selama ini, industri agro menjadi sektor andalan dalam memacu kinerja industri pengolahan nonmigas, yang juga turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional," kata Sigit dalam keterangan resmi, Minggu (6/1).

Menurutnya, pertumbuhan sektor industri agro juga didukung oleh tumbuhnya masing-masing subsektor, seperti industri makanan dan minuman, industri hasil tembakau, industri pengolahan kayu, bambu dan rotan, industri kertas dan berbahan kertas, serta industri furnitur.

Pada semester I tahun 2018, industri agro menyumbang hingga 49,11% terhadap total produk domestik bruto (PDB) sektor nonmigas. Di periode yang sama, ekspor dari industri agro berkontribusi mencapai US$ 23,26 miliar atau 26,43% terhadap total ekspor nasional. Dengan begitu, produk agro dalam negeri menurutnya telah berdaya saing global.

Investasi di industri agro juga menjadi motor penggerak pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia. Pada semester I 2018, penanaman modal dalam negeri (PMDN) di industri agro mencapai Rp24,32 triliun, sedangkan penanaman modal asing (PMA) menembus angka US$ 1,1 miliar.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memaparkan kinerja beberapa subsektor industri agro. Di sektor industri pengolahan sawit misalnya, implementasi mandatori B-20 mendorong pertumbuhan pasar domestik produk hilir sebesar 6,5% serta ekspor produk pangan dan biofuel kelapa sawit tumbuh hingga 7,4%.

“Saat ini, rasio ekspor produk hilir di industri CPO sebesar 80% dibandingkan produk hulu. Investasi mencapai US$ 1,2 miliar dengan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 2.000 orang dan 32.000 tenaga kerja tidak langsung,” uajrnya.

Pada 2019, pasokan biodiesel ditargetkan sebesar 6,1 juta ton yang didukung dengan pabrik biodiesel nasional berkapasitas terpasang mencapai 12,75 juta kilo liter.

Sementara itu, utilitas industri pengolahan kakao juga meningkat menjadi 61% pada 2018 dibanding 2017 sekitar 59%. Selanjutnya, industri pengolahan kakao menikmati surplus hingga US$ 770 juta dengan peningkatan ekspor cocoa butter sebesar 19% dan cocoa powder 18% pada Januari-September 2018.

Sedangkan pertumbuhan di industri gula didukung oleh pembangunan tiga pabrik gula baru dengan total investasi mencapai Rp 16,16 triliun dan kapasitas hingga 35.000 ton cane per day (TCD). Ketiga pabrik gula baru itu adalah Rejoso Manis Indo di Blitar, Muria Sumba Manis di NTT, dan Pratama Nusantara Sakti di Ogan Komering Ilir.

“Kami menargetkan terus memacu industri agro di Indonesia agar lebih produktif dan kompetitif, dengan pemanfaatan teknologi terbaru sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” ujarnya.

( Sumber :https://katadata.co.id/berita/2019/01/07/momentum-pemilu-diprediksi-kerek-pertumbuhan-industri-agro-710 )