ID EN
event_note 02-Jul-2014 10:03 | folder_open Industri Hasil Laut | remove_red_eye 1378

Kode Hs Rumput Laut Perlu Penyempurnaan


Kode Hs Rumput Laut Perlu Penyempurnaan

JAKARTA - Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) mengusulkan kepada pemerintah untuk menyempurnakan HS (Harmonized System) Code rumput laut dan produk turunannya menjadi lebih spesifik karena perbedaan produk yang dihasilkan dan beragamnya jenis rumput laut yang diekspor Indonesia.

"Penyempurnaan itu diperlukan agar kita juga mudah melakukan identifikasi terhadap jenis apa saja yang jumlah produksinya banyak atau sedikit, meningkat atau menurun serta jenis apa saja yang banyak diekspor Indonesia, karena jenis rumput laut itu beraneka ragam," kata Ketua ARLI Safari Azis melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, data yang akurat dari penyempurnaan HS Code tersebut sangat bermanfaat bagi pelaku rumput laut, mulai dari pembudidaya, pedagang, eksportir hingga prosesor rumput laut dari hulu hingga hilir.

Safari menjelaskan saat ini HS Code dibedakan atas dua kategori utama yakni HS Code untuk bahan baku (raw material) dan HS Code untuk produk rumput laut setelah diproses.

"Untuk raw material saat ini hanya ada satu HS code yaitu seaweed, 1212.20.00.00, padahal bahan baku berupa rumput laut kering (raw material) ini ada enam jenis rumput laut yang paling banyak diperdagangkan dari Indonesia dalam jumlah yang besar," katanya.

Menurut dia, sedikitnya dibutuhkan enam HS code dan rumput laut lainnya, juga dibutuhkan satu HS code dalam kategori rumput laut lainnya, seperti rumput laut nori dan lainnya.

Karena itu, lanjut dia, diperlukan total tujuh HS code untuk seluruh bahan baku rumput laut kering (raw material) tersebut, yakni glacilaria, gelidium, pterocladia, kappaphycus alvarezii, eucheuma spinosum, sargasum, dan lainnya.

Usulan itu, menurut Safari, adalah untuk mengakomodir para eksportir rumput laut karena bahan mentah rumput laut kering untuk masing-masing produk tersebut tidak dapat dicampur.

"Yang paling penting juga adalah kemudahan pemerintah dalam memantau secara riil jenis rumput laut dan jumlahnya secara akurat baik yang diekspor maupun yang diimpor," katanya.

Sementara itu, HS code untuk produk rumput laut setelah diproses yang sudah ada adalah Carrageenan dengan HS code 1302.39.10.00 dan agar-agar dengan HS code 1302.31.00.00, sedangkan untuk produk Alginat belum memiliki HS Code.

"Alginat ini adalah produk olahan rumput laut yang berbeda dari Carrageenan dan Agar-Agar. Namun selama ini HS code nya disamakan dengan agar-agar padahal jelas berbeda," katanya.

Untuk Carrageenan, kata dia, yang diperdagangkan ada delapan hasil olahan atau turunan dalam jumlah besar dan fungsinya berbeda-beda, yakni Alkali Treated Seaweed Cottonii (ATSC), Alkali Treated Seaweed Spinosum (ATSS), Alkali Treated Cottonii Chip (ATCC), Alkali Treared Spinosum Chip (ATSC), Semi Refined kappa Carrageenan (SRC-kappa), Semi Refined iota  Carrageenan (RC-iota), Refined kappa Carrageenan (RC-kappa), Refined "iota" Carrageenan (RC-iota).

Selain itu, lanjut dia,, diperlukan juga tambahan untuk dua HS code lainnya, karena kenyataan di lapangan selama ini para eksportir juga mengirim hasil olahan campuran (blended) baik "semi-refined" maupun "blended refined".

"Jadi untuk HS code rumput laut yang diolah kita usulkan ada 10 HS Code. Kita harapkan hal ini bisa semakin memberikan data akurat bagi pemerintah dan 'stakeholder' lainnya untuk memantau secara akurat produksi olahan yang diekspor dan yang dimpor," ujarnya.


(Sumber : Investor.co.id)