ID EN
event_note 14-Apr-2011 09:46 | folder_open Industri Kakao | remove_red_eye 1559

Komoditi Gelondongan dan Struktur Industri Bolong


Komoditi Gelondongan dan Struktur Industri Bolong

Menyimak pengarahan Direktur Jenderal Industri Agro pada pembukaan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan Pengembangan Program Industri Agro, tanggal 17 Maret 2011 di Hotel Mercury-Ancol, terungkap bahwa industri pengolahan agro di Indonesia masih belum optimal diusahakan. Sehingga muncul istilah “gelondongan” dan struktur industri “bolong”.

 
Disebut “gelondongan” suatu istilah sesuatu komoditas yang diperdagangkan atau di ekspor masih dalam bentuk bahan mentah. Kondisi “gelondongan” seperti biji kakao di Indonesia predikat nomor tiga produsen biji kakao dunia, namun sampai kini masih banyak gelondongan yang diekspor. Sesungguhnya peluang pengolahan terbuka luas untuk menghasilkan variasi produk olahan seperti cocoa powder, cocoa butter, cocoa liquor dan untuk produk akhir berupa coklat. Demikian juga komoditas mete, Indonesia merupakan penghasil mete gelondongan terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur dan Brasil. Kemudian komoditi lainnya kopi, petani masih menjual komoditas kopi dalam biji kopi petik yang harganya sangat murah. Begitu juga kelapa sawit yang gencar diusahakan, sayangnya ternyata hingga kini masih ada ekspor kelapa sawit gelondongan dan juga masih terjadi ekspor kayu gelondongan secara illegal.


Demikian pula dengan struktur industri belum kuat karena di tengahnya masih belum diusahakan atau “bolong”. Kondisi struktur industri “bolong”, terjadi lemahnya keterkaitan struktur industri yang ditunjukkan belum terkaitnya antara industri hulu dan hilir, dan juga belum selarasnya perkembangan industri besar, menengah dan kecil. Dalam hal hubungan hulu hilir, industri nasional belum sepenuhnya didukung oleh industri bahan baku dan atau industri penghasil barang antara, hubungan industri  besar dan kecil. Hubungan diantara hal tersebut terdapat kekosongan di tengah (hollow middle).


Saatnya kini merubah pola pikir, dengan memperkuat jejaring pengembangan pohon industri di tanah air ini, agar istilah “gelondongan” menjadi “menggelinding” berkembangnya industri hilir agro. Demikian juga dengan struktur “bolong” jadikan menjadi “peluang” industri yang prioritas dikembangkan ke depan. Sesungguhnya pengembangan industri agro adalah industri idaman yang prospektif membuka penyerapan tenaga kerja dan mempunyai peluang pasar yang luas baik mengisi struktur industri dalam negeri maupun ekspor. (HF-2011)