ID EN
event_note 13-Apr-2011 05:13 | folder_open Industri Kopi | remove_red_eye 1303

Harga Mahal, Permintaan Ekspor Kopi Menurun


Jakarta - Terus melonjaknya harga kopi di pasar internasional temyata berdampak pada permintaan kopi semakin berkurang. Saat ini, harga jual kopi berada di kisaran USS 7 perkg-

"Penurunan permintaan itu mengkhawatirkan eksportir, tetapi pengusaha tidak bisa berbuat banyak seperti menurunkan harga ekspor karena harga di lokal juga masih bertahan menguat* kata eksportir kopi asal Sumatera Utara, Andryanus Simarmata. Senin.

Andryanus menyebut, harga di pasar lokal dewasa ini berkisar Rp55.000 per kg ditengah harga di pasar internasional yang sekitar Rp 60.000 per kg.

Permintaan yang me-nurun itu dilakukan importir dengan dalih harga kopi yang harganya bertahan mahal itu sudah menyulitkan mereka untuk memperdagangkan hasil olahan kopi tersebut di pasar.

Kalau-pun masih ada permintaan, selain karena masih ada dalam ikatan kerja sama kontrak atau permintaan dialihkan ke kopi dengan kualitas rendah yang harganya bisa lebih murah.

"Eksportir nasional semakin tidak bisa berbuat banyak, karena sebelumnya pengusaha juga sudah merugi besar dengan naiknya harga kopi yang di luar dugaan sejak sembilan bulan terakhir,* jelasnya.

Sebelumnya, harga kontrak kopi rata-rata sekitar -1-5 dolar AS per kg atau jauh dibawah harga pasar yang rata-rata USS 7 lebihper kg-nya.

Andryanus mengungkapkan, belajar dari pengalaman harga kopi bisa naik tajam di luar dugaan termasuk akhirnya berdampak pada penurunan permintaan, maka Indonesia harus meningkatkan produksinya

Selain bisa mendapatkan devisa lebih besar jika terjadi kenaikan harga jual, di sisi lain juga bisa menjadi peredam kenaikan harga sehingga kerugian dari penurunan permintaan bisa ditekan.

"Tetap saja akhirnya kembali kepada seharusnya Indonesia meningkatkan produksi kopinya dengan cara menggantikan tanaman tua atau memperluas arealnya,* terangnya.

Eksportir kopi Sumut lainnya. Saidul Alam, mengatakan, harga Arabika Su-matra yang dewasa ini "plusnya sudah mencapai 60-70 poin diatas harga ter-mina dari selama ini hanya "plus" 10-20 poin merupakan sejarah baru dalam perkopian dunia.

"Plus" harga Kopi Arabika Sumatra yang jauh dibawah harga kopi Kolombia yang justru "plusnya menurun menjadi 20 poin dari sebelumnya 40-50 poin itu benar-benar mengejutkan pelaku perkopian dunia.

Lebih Mahal

Sebelumnya, Ketua Umum AEKI, Suyanto Hussein, menyebutkan, sebagian besar dari 200 eksportir anggota asosiasi itu ""menjerit" karena harga beli di lokal jauh lebih mahal dari harga di kontrak.

Selisih harga itu membuat eksportir menghen-tikan sementara ekspornya. kecuali untuk menutupi kontrak. "ladi jangan kira. begitu harga di pasar internasional naik, eksportir langsung untung," ujarnya.

Kalau "wait and see* itu terus berlangsung atau bahkan permintaan menurun seperti dewasa ini, maka volume ekspor kopi Indonesia bisa menurun lagi dari tahun lalu.

Perhitungan adanya penurunan volume ekspor itu, juga semakin dipicu dengan prediksi terjadinya penurunan produksi kopi di dalam negeri sekitar 20% dari tahun 2010 akibat faktor cuaca dan tanaman tua.

Dengan hitungan itu, ekspor kopi nasional tahun ini diperkirakan berkisar 350 ribu ton atau paling banyak seperti arealisasi tahun lalu yang 400 ribu ton.

(Sumber: bataviase.co.id, 12 April 2011)